Politik

Info Haji

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Otomotif

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Calon Dewan

Indeks

Romo Syafii: Pesantren Jumlah 1.000 Santri Bisa Kelola Dapur MBG Mandiri

Laporan: Firman
Selasa, 12 Mei 2026 | 09:05 WIB
Wakil Menteri Agama Muhammad Syafii - Foto: Dok. Kemenag -
Wakil Menteri Agama Muhammad Syafii - Foto: Dok. Kemenag -

RAJAMEDIA.CO - Jakarta - Wakil Menteri Agama Muhammad Syafii mengatakan pesantren dengan jumlah santri lebih dari 1.000 orang dapat mengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) secara mandiri dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
 

Menurut pria yang akrab disapa Romo Syafii itu, langkah tersebut dilakukan untuk mempercepat penyaluran program MBG di lingkungan pesantren dan pendidikan keagamaan.
 

“Tadi kita sudah sepakat bahwa untuk percepatan penerimaan MBG di pondok pesantren maka pesantren yang jumlah santrinya seribu ke atas itu bisa langsung membangun SPPG sendiri,” kata Romo Syafii kepada wartawan di Jakarta, Senin (11/5/2026).
 

Pesantren Bisa Ajukan Dapur Mandiri
 

Romo Syafii menjelaskan yayasan pesantren nantinya dapat mengajukan permohonan kepada Badan Gizi Nasional untuk mendirikan dapur mandiri di area pesantren.
 

Menurutnya, model tersebut dinilai lebih efektif karena dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik masing-masing pesantren.
 

Tak Harus Ikuti Prototipe Umum
 

Wamenag mengatakan pelaksanaan MBG di pesantren tidak harus sepenuhnya mengikuti prototipe umum yang telah ditetapkan BGN.
 

Baik bentuk dapur maupun pola penyajian makanan disebut bisa menyesuaikan budaya dan kebiasaan di lingkungan pesantren selama tetap memenuhi standar kebersihan dan sanitasi.
 

“Tidak mesti persis seperti prototipe yang ditetapkan oleh BGN,” ujarnya.
 

Ia mencontohkan sejumlah pesantren sudah menggunakan sistem omprengan untuk makan santri, sementara lainnya masih menerapkan pola prasmanan.
 

“Yang sudah pakai omprengan kami minta diteruskan. Tapi yang memang tradisinya prasmanan juga masih dimungkinkan,” katanya.
 

Jadwal MBG Bisa Ikuti Puasa Sunnah
 

Selain pola dapur, jadwal pemberian MBG juga disebut bisa menyesuaikan tradisi santri yang menjalankan puasa sunnah Senin dan Kamis.
 

Romo Syafii menjelaskan makanan yang dimasak siang hari tetap dapat diberikan saat waktu berbuka puasa.
 

“Di pesantren itu kan ada tradisi puasa Senin Kamis. Jadi makanan bisa dimasak siang hari untuk dimakan saat berbuka. Sangat adaptif sekarang,” ujarnya.
 

Program MBG Diperluas ke Pesantren
 

Pemerintah saat ini terus memperluas implementasi program MBG ke berbagai lembaga pendidikan, termasuk pesantren.
 

Dengan pola yang lebih fleksibel, Kementerian Agama berharap program pemenuhan gizi bagi santri dapat berjalan lebih cepat dan tetap menyesuaikan kultur pendidikan pesantren di berbagai daerah.rajamedia

Komentar: