Perpres Diteken! Ditjen Pesantren Lahir—Era Baru Santri Dimulai
RAJAMEDIA.CO — Jakarta — Kabar besar datang dari dunia pendidikan Islam. Wakil Menteri Agama, Muhammad Syafi'i, memastikan Peraturan Presiden (Perpres) tentang pembentukan Direktorat Jenderal (Ditjen) Pesantren sudah diteken.
Langkah ini jadi tonggak baru: negara memberi panggung lebih besar bagi pesantren sebagai pilar pendidikan dan peradaban.
"Ditjen Pesantren Itu Keniscayaan"
Romo Syafi’i menegaskan, pembentukan Ditjen Pesantren bukan sekadar kebijakan administratif—tapi kebutuhan nyata.
“Perpres sudah ditandatangani dan sedang dalam proses pengundangan. Kehadiran Ditjen Pesantren adalah keniscayaan,” tegasnya, Kamis (2/4/2026).
Dengan jumlah pesantren dan santri yang besar, serta peran strategis para kiai, negara dinilai harus hadir lebih kuat.
Struktur Lengkap, Lima Direktorat Disiapkan
Di bawah koordinasi Kementerian Agama Republik Indonesia, Ditjen Pesantren dirancang dengan struktur komprehensif.
Ada lima direktorat utama:
1. Pendidikan Muadalah, Diniyah Formal & Kajian Kitab Kuning
2. Pendidikan Ma’had Aly
3. Pendidikan Diniyah Takmiliyah & Al-Qur’an
4. Pemberdayaan Pesantren
5. Pengembangan Dakwah Pesantren
Struktur ini disusun untuk menjawab kompleksitas dunia pesantren yang tak bisa ditangani secara parsial.
“Kalau satu unsur hilang, organisasi bisa pincang,” tegas Wamenag.
SDM Harus Paham ‘Ruh Pesantren’
Tak hanya struktur, Wamenag juga menyoroti siapa yang akan mengisi jabatan di dalamnya.
Pesannya jelas: jangan asal isi.
Posisi strategis harus dipegang oleh figur yang benar-benar memahami dunia pesantren—bukan sekadar teknokrat.
“Untuk kurikulum dan pengasuhan, harus orang yang paham ‘ruh’ pesantren,” ujarnya.
Sementara sektor pemberdayaan bisa melibatkan tenaga ahli profesional.
Rekrutmen Dikebut
Agar tak mandek di atas kertas, Kemenag diminta segera menyiapkan rekrutmen SDM. Targetnya: begitu resmi diundangkan, Ditjen Pesantren bisa langsung tancap gas tanpa hambatan teknis.
Santri Unggul, Spiritual Kuat
Dengan hadirnya Ditjen Pesantren, pemerintah menargetkan lahirnya generasi yang tak hanya cerdas secara intelektual, tapi juga kokoh secara spiritual.
Pesantren tak lagi dipinggirkan—justru ditempatkan di jantung pembangunan SDM nasional.
Ini bukan sekadar pembentukan lembaga baru. Ini soal pengakuan negara terhadap kekuatan pesantren. Jika dikelola serius, Ditjen Pesantren bisa jadi game changer—mengangkat santri dari pinggiran ke pusat peradaban.![]()
Pendidikan | 5 hari yang lalu
Ekbis | 2 hari yang lalu
Keamanan | 5 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Hukum | 3 hari yang lalu
Keamanan | 5 hari yang lalu
Hukum | 5 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Parlemen | 3 hari yang lalu