Menhaj Evaluasi Haji 2026: Mina dan Istithaah Kesehatan Jadi Sorotan Utama
RAJAMEDIA.CO — Makkah — Menteri Haji dan Umrah RI Moch Irfan Yusuf mulai menyiapkan catatan besar untuk penyelenggaraan ibadah haji tahun depan. Dua isu utama langsung dipasang sebagai fokus evaluasi: pelayanan jemaah di Mina dan penguatan istithaah kesehatan.
Pesan itu disampaikan Menhaj saat ditemui tim Media Center Haji di Kantor Daker Makkah, Minggu (31/5/2026).
Meski pelaksanaan haji 1447 H/2026 M secara umum berjalan lebih baik dan terkendali, Menhaj menegaskan pemerintah tidak ingin cepat puas. Masih ada sejumlah persoalan yang harus dibenahi demi meningkatkan kenyamanan dan keselamatan jemaah Indonesia.
“Untuk Mina kemarin saya jujur jauh dari puas. Tahun depan harus kami cermati lagi bagaimana pola pergerakan jemaah di Mina,” tegas Irfan Yusuf.
Menurutnya, kawasan Mina masih menjadi tantangan paling kompleks dalam operasional haji karena keterbatasan ruang yang harus menampung jutaan jemaah dari berbagai negara.
Mina Dinilai Masih Jadi Titik Krusial
Menhaj menilai kepadatan dan mobilitas jemaah di Mina membutuhkan penanganan yang jauh lebih matang.
Setiap tahun jumlah jemaah terus meningkat, sementara kapasitas kawasan Mina sangat terbatas. Karena itu, pemerintah akan mengevaluasi secara menyeluruh skema pergerakan jemaah, distribusi layanan, hingga pola pengaturan waktu selama fase Armuzna berlangsung.
Menurut Irfan, evaluasi tidak hanya menyangkut teknis lapangan, tetapi juga strategi mitigasi risiko agar jemaah lebih aman dan nyaman.
“Kita ingin tahun depan lebih baik, lebih tertata, dan lebih manusiawi bagi jemaah,” ujarnya.
Istithaah Kesehatan Jadi Prioritas
Selain persoalan Mina, Menhaj juga memberi perhatian serius pada aspek kesehatan jemaah haji.
Ia mengungkapkan, angka jemaah wafat tahun ini memang mengalami penurunan hampir 50 persen dibanding musim haji sebelumnya. Namun demikian, pemerintah masih menemukan banyak jemaah yang baru tiba di Arab Saudi tetapi langsung membutuhkan penanganan rumah sakit.
Kondisi itu dinilai menjadi alarm penting bahwa standar istithaah kesehatan harus diperkuat sejak awal.
“Yang kita bicara bukan usia, tapi kesehatan. Ada jemaah usia lebih dari 100 tahun tetap bisa berangkat karena kondisi fisiknya sehat,” katanya.
Menurutnya, paradigma soal kelayakan berhaji harus bergeser. Penilaian tidak lagi semata soal usia lanjut, melainkan kemampuan fisik dan kesehatan jemaah dalam menjalankan seluruh rangkaian ibadah haji.
Pembinaan Kesehatan Akan Dimulai Lebih Awal
Untuk memperkuat kesiapan jemaah, Kementerian Haji dan Umrah akan mendorong program pembinaan kesehatan dilakukan lebih dini sebelum musim keberangkatan.
Sejumlah daerah bahkan disebut sudah mulai mengumpulkan calon jemaah haji tahun berikutnya untuk mengikuti manasik sekaligus edukasi kesehatan.
Langkah tersebut dinilai penting agar jemaah memiliki kesiapan fisik yang lebih baik saat tiba di Tanah Suci.
“Kami ingin pembinaan kesehatan tidak dilakukan menjelang keberangkatan saja, tetapi jauh hari sebelumnya,” jelas Menhaj.
Haji Bukan Sekadar Berangkat
Menhaj menegaskan, tujuan utama penguatan istithaah bukan untuk membatasi masyarakat berhaji, melainkan memastikan setiap jemaah benar-benar mampu menjalankan ibadah secara aman dan optimal.
Menurutnya, ibadah haji membutuhkan kesiapan fisik, mental, dan stamina yang kuat karena seluruh rangkaian ibadah berlangsung dalam cuaca ekstrem dan mobilitas tinggi.
Karena itu, pemerintah ingin memastikan seluruh jemaah Indonesia tidak hanya bisa berangkat ke Tanah Suci, tetapi juga mampu menyelesaikan seluruh prosesi ibadah dengan baik dan kembali ke Tanah Air dalam kondisi sehat.
“Yang paling penting adalah keselamatan dan kemaslahatan jemaah,” pungkasnya.![]()
Hukum | 4 hari yang lalu
Nasional | 4 hari yang lalu
Ekbis | 1 hari yang lalu
Info Haji | 3 hari yang lalu
Hukum | 6 hari yang lalu
Hukum | 5 hari yang lalu
Pendidikan | 3 hari yang lalu
Politik | 4 hari yang lalu
Daerah | 5 hari yang lalu