Politik

Info Haji

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Otomotif

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Calon Dewan

Indeks

Gubernur Lemhannas: Pesantren Adalah Sekolah Kehidupan, Cetak Pemimpin Global Berakar Moral

Laporan: Firman
Senin, 07 September 2026 | 07:06 WIB
Gubernur Lemhannas RI Dr TB Ace Syadzily saat menjadi pembicara Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) di Hotel Borobudur, Jakarta, Sabtu malam (5/9/2026). - Foto: IST/RMN -
Gubernur Lemhannas RI Dr TB Ace Syadzily saat menjadi pembicara Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) di Hotel Borobudur, Jakarta, Sabtu malam (5/9/2026). - Foto: IST/RMN -

RAJAMEDIA.CO — Jakarta — Gubernur Lemhannas RI Dr. Tb. Ace Hasan Syadzily menegaskan pesantren memiliki peran strategis dalam membentuk manusia utuh sekaligus menyiapkan calon pemimpin global yang tetap berakar pada nilai moral dan kemanusiaan.
 

Hal itu disampaikan Ace saat menjadi salah satu pembicara Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) dalam rangka 1 Abad Pondok Modern Gontor, bersama Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, M. Jusuf Kalla, di Hotel Borobudur, Jakarta, Sabtu malam (5/9/2026).

Ace membawakan tema “Pesantren Governance, Cadreship, Institutional Sustainability, and Global Leadership.”
 

Pesantren sebagai Sekolah Kehidupan
 

Menurut Ace, pendidikan pesantren tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Santri ditempa melalui kehidupan sehari-hari, mulai dari disiplin, hidup sederhana, mengelola diri, bekerja sama, mengabdi, memimpin hingga bertanggung jawab.
 

“Pendidikan di pesantren merupakan sekolah kehidupan. Ia merupakan pendidikan holistik,” ujar Ace.
 

Di pesantren, lanjutnya, nilai tidak sekadar diajarkan, tetapi dihidupkan. Begitu pula karakter yang tidak hanya dijelaskan secara teori, melainkan dibentuk melalui pembiasaan.
 

Pesantren Bisa Cetak Pemimpin Global
 

Ace menilai pengalaman pesantren dapat menjadi kontribusi penting Indonesia dalam percakapan global mengenai pendidikan holistik.

Tradisi kepemimpinan dan pembentukan karakter yang berlangsung lintas generasi membuat pesantren memiliki potensi besar melahirkan pemimpin global.
 

Namun, pemimpin masa depan tidak cukup hanya memiliki kemampuan intelektual dan profesional. Mereka harus memiliki integritas, empati, keberanian moral, kearifan, serta tujuan hidup yang luhur.
 

Pemimpin global juga dituntut mampu memahami keberagaman budaya, menghadapi dinamika geopolitik, menggunakan teknologi secara bijak, serta berkiprah melampaui batas negara.
 

Modernisasi Tanpa Kehilangan Identitas
 

Ace mendorong pesantren terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi, kecerdasan buatan (AI), riset, inovasi, dan kolaborasi internasional.
 

Namun, modernisasi tidak boleh membuat pesantren kehilangan jati dirinya.
 

“Rawat nilainya, transformasikan metodenya,” tegas Ace.
 

Pesantren dan Misi Perdamaian
 

Menurut Ace, penguatan pesantren pada akhirnya tidak hanya berdampak pada dunia pendidikan. Pesantren juga dapat berkontribusi dalam membangun perdamaian.

Nilai rahmah, keadilan, keseimbangan, persaudaraan, dan penghormatan terhadap martabat manusia yang hidup dalam tradisi Islam dan pesantren dinilai memiliki relevansi kuat dalam menghadapi tantangan dunia.
 

Karena itu, pesantren tidak hanya perlu dipandang sebagai lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga sebagai kekuatan pembentukan karakter, kepemimpinan, dan perdamaian global.
 

RAJA MEDIA – Cepat, Tegas, Terpercaya.rajamedia

Komentar: