Lemhannas Goes To Campus UNAND, Ace Hasan: “Tumpuan Masa Depan Bangsa Ini Ada pada Anak Muda”
Laporan: Firman
Jumat, 04 September 2026 | 06:25 WIB
Gubernur Lemhannas RI Tb. Ace Hasan Syadzily saat menjadi keynote speaker dalam program Lemhannas Goes to Campus di Universitas Andalas (UNAND), Kamis (3/9/2026). - Foto: IST/RMN -
RAJAMEDIA.CO — Padang — Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si. menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam menentukan arah masa depan Indonesia.
Pesan tersebut disampaikan Ace Hasan saat menjadi keynote speaker dalam program Lemhannas Goes to Campus yang digelar di Convention Hall Universitas Andalas (UNAND), Kamis (3/9/2026).
Kegiatan yang dikemas dalam bentuk kuliah umum tersebut menjadi ruang bagi Lemhannas dan civitas akademika UNAND untuk memperkuat wawasan kebangsaan sekaligus membahas tantangan ketahanan nasional di tengah perubahan global yang berlangsung cepat.
Ace Hasan: Masa Depan Indonesia Ada di Tangan Anak Muda
Di hadapan mahasiswa UNAND, Ace Hasan menekankan bahwa generasi muda memiliki posisi strategis dalam menentukan perjalanan bangsa.
“Tumpuan masa depan bangsa ini ada pada anak muda,” tegasnya.
Menurut Ace Hasan, Indonesia memiliki posisi geopolitik yang sangat strategis karena berada di persilangan ekonomi dunia dan dianugerahi sumber daya alam yang melimpah.
Posisi tersebut membuat Indonesia memiliki nilai strategis sekaligus berada dalam pusaran perebutan pengaruh berbagai kekuatan dunia.
Karena itu, generasi muda harus memiliki wawasan geopolitik yang kuat agar mampu menempatkan Indonesia pada posisi yang tepat dalam percaturan global.
“Pemuda memiliki peran besar dalam menentukan ke mana arah negara ini,” ujarnya.
Teknologi Jangan Sampai Mengendalikan Manusia
Ace Hasan juga mengingatkan mahasiswa mengenai perkembangan teknologi yang semakin cepat.
Menurutnya, disrupsi teknologi menghadirkan peluang sekaligus ancaman. Teknologi harus dimanfaatkan sebagai instrumen untuk mendukung kehidupan dan pembangunan, bukan justru menjadi tujuan.
“Kita harus menempatkan teknologi sebagai instrumen, bukan tujuan. Jangan sampai secara tidak sadar kita justru menjadi produk dari sistem yang kita ciptakan,” jelasnya.
Pesan tersebut menjadi penting di tengah perkembangan kecerdasan buatan, digitalisasi, dan berbagai teknologi baru yang semakin memengaruhi kehidupan masyarakat.
Ketahanan Nasional Bukan Sekadar Kekuatan Militer
Ace Hasan menjelaskan, ketahanan nasional tidak hanya berkaitan dengan pertahanan dan kekuatan militer.
Ada delapan aspek yang saling berkaitan dalam membangun ketahanan nasional, yakni ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan, sumber kekayaan alam, demografi, serta geografi.
Menurutnya, kekuatan bangsa harus dibangun secara menyeluruh karena setiap aspek memiliki keterkaitan dalam menentukan daya tahan Indonesia menghadapi berbagai tantangan.
Aspek sosial budaya, misalnya, memiliki peran penting dalam membentuk sumber daya manusia yang unggul.
Nasionalisme Harus Tetap Kuat di Era Borderless
Di tengah dunia yang semakin tanpa batas atau borderless, Ace Hasan mendorong generasi muda untuk tetap memiliki kesadaran kebangsaan.
Pemahaman geopolitik harus berjalan beriringan dengan penguatan nasionalisme. Generasi muda harus mampu mengikuti perkembangan dunia tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai kebangsaan.
Ace Hasan mencontohkan falsafah yang hidup di tengah masyarakat Sumatera Barat, “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”, sebagai salah satu nilai budaya yang dapat menjadi kekuatan dalam membangun karakter masyarakat.
Ia juga mendorong perguruan tinggi untuk terus menginternalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan akademik.
“Nilai-nilai Pancasila harus terus diinternalisasi dan menjadi bagian penting dalam pendidikan, termasuk melalui pembelajaran di perguruan tinggi,” katanya.
Rektor UNAND Soroti Ketahanan Pangan
Rektor UNAND Efa Yonnedi, Ph.D. dalam sambutannya menegaskan kontribusi kampus dalam memperkuat ketahanan nasional melalui riset dan inovasi.
Salah satu fokus yang dikembangkan UNAND adalah ketahanan pangan dengan mengoptimalkan potensi sumber daya lokal Indonesia.
Berbagai penelitian dilakukan untuk menghasilkan produk inovatif, termasuk pengembangan Tinta Merah Putih dan pemanfaatan tanaman gambir.
Menurut Efa, gambir memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk turunan, baik untuk kebutuhan obat-obatan maupun pangan.
“Gambir memiliki banyak produk turunan yang masih bisa dikembangkan, baik untuk obat-obatan maupun makanan. Ini terus kita teliti, sehingga ke depan diharapkan akan semakin banyak produk yang dapat dihasilkan dari gambir,” jelasnya.
30 Produk Riset UNAND Masuk e-Katalog
Kontribusi UNAND terhadap ketahanan nasional juga terlihat dalam bidang kesehatan.
Saat ini, sekitar30 produk riset UNAND telah tersedia dalam e-Katalog. Produk tersebut antara lain mencakup reagent test untuk Tuberkulosis (TBC) dan reagent test Human Papillomavirus (HPV).
Pengembangan berbagai produk hasil riset tersebut diarahkan untuk memperkuat kemandirian sekaligus ketahanan kesehatan nasional.
Lemhannas Goes to Campus Tanam Pohon Andalas
Kegiatan Lemhannas Goes to Campus di UNAND juga dirangkaikan dengan penanaman pohon Andalas dan Tabebuya sebagai bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-70 Universitas Andalas.
Penanaman pohon menjadi simbol komitmen kampus dalam menjaga lingkungan sekaligus memperkuat nilai keberlanjutan.
Dari Kampus untuk Ketahanan Bangsa
Lemhannas Goes to Campus di UNAND menjadi ruang bertemunya gagasan mengenai masa depan Indonesia.
Mahasiswa tidak hanya diajak memahami konsep ketahanan nasional, tetapi juga didorong mengambil peran nyata melalui penguatan kompetensi, nasionalisme, inovasi, dan kepedulian terhadap kepentingan nasional.
Pesan Ace Hasan pun menjadi penegasan: masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah hari ini, tetapi juga oleh kualitas dan keberanian generasi muda dalam menentukan arah bangsa ke depan.