Politik

Info Haji

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Otomotif

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Calon Dewan

Indeks

Ace Hasan: Pemikiran Cak Nur Tetap Relevan, Perkuat Relasi Islam, Negara dan Demokrasi

Laporan: Firman
Sabtu, 29 Agustus 2026 | 20:02 WIB
Gubernur Lemhannas RI, Dr. Tb. Ace Hasan Syadzily  - Foto: Ist/RMN -
Gubernur Lemhannas RI, Dr. Tb. Ace Hasan Syadzily - Foto: Ist/RMN -

RAJAMEDIA.CO — Jakarta — Gubernur Lemhannas RI, Dr. Rb Ace Hasan Syadzily menghadiri Haul ke-21 Guru Bangsa, Prof. Nurcholish Madjid atau Cak Nur, di JS Luwansa, Jakarta, Sabtu (29/8/2026).
 

Ace Hasan menilai pemikiran Cak Nur sebagai salah satu pembaharu pemikiran Islam di Indonesia masih sangat relevan untuk terus digemakan, terutama dalam memperkokoh hubungan antara Islam, negara, dan demokrasi di Indonesia.
 

Gagasan Cak Nur Masih Relevan
 

Menurut Ace Hasan, gagasan Cak Nur memberikan kontribusi besar dalam membentuk wajah Islam Indonesia yang toleran sekaligus memperkuat kompatibilitas antara Islam dan demokrasi.
 

Pemikiran tersebut juga mendorong semangat Islam dalam mewujudkan keadilan sosial, etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, penghargaan terhadap hak asasi manusia (HAM), serta spiritualitas Islam yang inklusif.

“Bagi saya, pemikiran Cak Nur masih relevan untuk terus digemakan bagi bangsa ini, terutama dalam memperkokoh bagaimana hubungan negara dan Islam dan demokrasi di Indonesia,” ujar Ace Hasan.
 

Keislaman, Keindonesiaan dan Kemodernan
 

Ace Hasan mengatakan Cak Nur telah menghasilkan banyak karya yang membahas hubungan keislaman, keindonesiaan, dan kemodernan.
 

Karya-karya tersebut, lanjutnya, hingga kini menjadi rujukan bagi kalangan akademik, intelektual maupun masyarakat luas.
 

Menurut Ace Hasan, warisan pemikiran tersebut memiliki peran penting dalam upaya mengokohkan peradaban Islam Indonesia yang terbuka, toleran dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
 

Mahfud MD Elaborasi Pemikiran Cak Nur
 

Dalam haul tersebut, Ace Hasan juga mengikuti orasi budaya yang disampaikan Prof. Mahfud MD.
 

Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan itu mengelaborasi sejumlah pemikiran Cak Nur, antara lain mengenai konsep ummatan wahidah, ummatan washatan, dan hanafiatun samhah.
 

Gagasan tersebut menjadi bagian dari warisan intelektual Cak Nur yang terus diperbincangkan dalam konteks kehidupan keislaman dan kebangsaan Indonesia.
 

Dihadiri Keluarga dan Para Pengagum Cak Nur
 

Haul ke-21 tersebut turut dihadiri istri almarhum Cak Nur, Omi Komariah, serta sejumlah tokoh intelektual dan cendekiawan.

Di antaranya Prof. Komaruddin Hidayat, Yudi Latif, Buddy Munawar-Rachman, Eep Saefulloh Fatah, dan Ahmad Gaus AF.
 

Hadir pula para pengagum serta anak-anak ideologi Cak Nur yang selama ini terus merawat dan mengembangkan pemikirannya.
 

Acara tersebut diselenggarakan oleh Nurcholish Madjid Society sebagai ruang refleksi sekaligus upaya menjaga warisan pemikiran salah satu tokoh pembaharu Islam Indonesia tersebut.
 

Merawat Warisan Pemikiran Cak Nur
 

Bagi Ace Hasan, memperingati haul Cak Nur bukan sekadar mengenang sosok dan perjalanan hidupnya.
 

Lebih dari itu, pemikiran Cak Nur perlu terus dikaji dan diaktualisasikan untuk menjawab tantangan bangsa, khususnya dalam membangun hubungan yang harmonis antara agama, negara, demokrasi, kemanusiaan dan kehidupan kebangsaan.
 

Dua puluh satu tahun setelah wafatnya Cak Nur, gagasannya belum berhenti. Pemikiran tentang Islam yang inklusif, demokrasi dan keindonesiaan justru terus menemukan relevansinya dalam perjalanan bangsa.
 

RAJA MEDIA – Cepat, Tegas, Terpercaya.rajamedia

Komentar: