Politik

Info Haji

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Otomotif

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Calon Dewan

Indeks

DPR Dorong Pengelolaan Sampah Tak Hanya Terpusat di Jawa, Papua Jadi Sorotan

Laporan: Halim Dzul
Senin, 07 September 2026 | 14:53 WIB
Anggota Komisi XII DPR RI Cheroline Chrisye Makalew - Humas DPR -
Anggota Komisi XII DPR RI Cheroline Chrisye Makalew - Humas DPR -

RAJAMEDIA.CO — Jakarta — Anggota Komisi XII DPR RI Cheroline Chrisye Makalew mendorong pemerintah memastikan program pengelolaan sampah tidak hanya terfokus di Pulau Jawa, tetapi juga menjangkau daerah-daerah di Indonesia timur.
 

Menurut Cheroline, persoalan persampahan merupakan masalah nasional yang membutuhkan penanganan secara merata dengan tetap menyesuaikan kondisi dan kesiapan masing-masing daerah.
 

Papua Masih Hadapi Persoalan TPA
 

Cheroline menyoroti kondisi pengelolaan sampah di sejumlah wilayah Papua, termasuk masih terjadinya kebakaran di tempat pemrosesan akhir (TPA).
 

Ia menilai kondisi tersebut harus menjadi perhatian pemerintah pusat agar kebijakan dan program pengelolaan sampah benar-benar dirasakan masyarakat di daerah.
 

“Untuk itu, makanya tadi saya minta supaya kita bersama-sama turun, agar mereka dapat melihat langsung kondisi yang ada di daerah. Dengan turun sama-sama kan mereka melihat, dan harusnya kalau kita turun bersama-sama ada langkah konkret dari Kementerian Lingkungan Hidup terkait masalah persampahan,” ujar Cheroline di sela-sela RDP Komisi XII DPR RI dengan Plt. Deputi Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Berbahaya dan Beracun (PSLB3) Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup RI di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Senin (7/9/2026).
 

Kebijakan Harus Sesuai Kesiapan Daerah
 

Politisi Partai NasDem itu juga menekankan pentingnya menyesuaikan program pengelolaan sampah dengan kesiapan infrastruktur di daerah.
 

Menurutnya, kebijakan pemilahan sampah tidak akan efektif apabila tidak didukung sistem pengangkutan dan pengolahan yang memadai.
 

Ia mencontohkan sampah organik yang sudah dipilah tetapi tidak segera diangkut. Kondisi tersebut justru dapat menimbulkan pembusukan dan polusi baru.
 

“Artinya sudah dipilah-pilah, tapi ternyata memang saat pengangkutannya juga belum sesering, artinya ada pembusukan di situ, malah menimbulkan polusi sendiri,” katanya.
 

Pendidikan Sampah Masuk Kurikulum
 

Cheroline juga mendorong pendampingan dan bimbingan teknis kepada masyarakat dilakukan secara berkelanjutan. Menurutnya, edukasi tentang pengelolaan sampah tidak cukup hanya melalui sosialisasi sesaat.
 

Salah satu langkah yang dinilai penting adalah memasukkan pendidikan pengelolaan sampah ke dalam kurikulum sekolah.
 

Dengan cara itu, kebiasaan memilah sampah organik dan anorganik dapat ditanamkan sejak usia dini dan menjadi bagian dari perilaku sehari-hari.
 

“Kalau hanya melalui sosialisasi, satu hari orang datang setelah sosialisasi kan lupa, tapi kalau ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari, kayak mereka di sekolah, dari anak-anak masih kecil-kecil itu, diajarkan pemilahan sampah, kayak ini sampah organik, sampah bekas makan dipisah, ini sampah plastik dipisah, pasti perilaku itu akan tertanam sampai mereka dewasa,” jelasnya.
 

Pusat dan Daerah Harus Bergerak Bersama
 

Cheroline menilai penyelesaian persoalan sampah tidak cukup hanya mengandalkan sosialisasi. Perubahan perilaku masyarakat harus berjalan beriringan dengan kesiapan infrastruktur, sistem pengangkutan, pengolahan, serta pendampingan yang berkelanjutan.
 

Ia pun mendorong penguatan kerja sama antara pemerintah pusat dan daerah. Persoalan persampahan, kata dia, tidak dapat diselesaikan apabila hanya dibebankan kepada salah satu pihak.
 

“Jadi harus ada kerja sama yang baik antara pusat dan daerah, sehingga mereka berkolaborasi sama-sama, bagaimana persoalan ini bisa diselesaikan,” tegas Cheroline.
 

Indonesia Timur Jangan Dianaktirikan
 

Lebih lanjut, Cheroline meminta pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap kondisi pengelolaan sampah di wilayah timur Indonesia.
 

Ia menilai program persampahan harus hadir secara adil di seluruh Indonesia, dengan mempertimbangkan karakteristik, kebutuhan, serta tingkat kesiapan masing-masing wilayah.
 

“Permasalahan sampah ini bisa terkelola dengan baik, mungkin menurut saya, berapa kali pun saya sarankan, ini harus ada perubahan perilaku,” pungkasnya.
 

RAJA MEDIA – Cepat, Tegas, Terpercaya.rajamedia

Komentar: