Politik

Info Haji

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Otomotif

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Calon Dewan

Indeks

Erna Sari Dewi: Bandara Megah Tak Cukup Jika Belum Ramah Disabilitas!

Laporan: Halim Dzul
Minggu, 18 Januari 2026 | 07:20 WIB
Anggota Komisi VII DPR RI Erna Sari Dewi - Humas DPR -
Anggota Komisi VII DPR RI Erna Sari Dewi - Humas DPR -

RAJAMEDIA.CO – Tangerang, Legislator - Di balik megahnya terminal dan terus meningkatnya arus wisatawan, pembangunan bandara dinilai belum sepenuhnya inklusif. Anggota Komisi VII DPR RI Erna Sari Dewi mengingatkan, bandara sebagai wajah pertama pariwisata Indonesia wajib menjamin keselamatan, kenyamanan, dan akses setara, khususnya bagi penyandang disabilitas.
 

Penegasan tersebut disampaikan Erna saat kunjungan kerja spesifik Komisi VII DPR RI ke PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Provinsi Banten, Kamis (15/1/2026).
 

Bandara Gerbang Utama Pariwisata
 

Legislator Fraksi Partai NasDem itu menilai, secara umum infrastruktur Bandara Soekarno-Hatta dan sejumlah bandara utama, termasuk di Bali, terus menunjukkan kemajuan dan semakin nyaman. Namun, ia mengingatkan agar perhatian pemerintah tidak hanya terpusat pada bandara-bandara besar.
 

“Masih ada sedikitnya 14 bandara lain di Indonesia yang membutuhkan perbaikan infrastruktur dan peningkatan kualitas layanan. Ini bukan hanya soal kenyamanan, tapi juga keselamatan (safety),” ujar Erna.
 

Disabilitas Harus Jadi Indikator Utama
 

Menurut Erna, aspek safety dan service, terutama bagi penyandang disabilitas, harus menjadi indikator utama dalam pengembangan bandara. Peningkatan fasilitas fisik, lanjutnya, tidak cukup hanya mengejar estetika dan kapasitas, tetapi harus menjamin keamanan penumpang sejak turun dari pesawat hingga berada di area terminal.
 

“Kita tidak boleh lupa, sekitar 5 persen penduduk Indonesia adalah penyandang disabilitas. Ini angka besar yang membutuhkan perhatian serius,” tegasnya.
 

Ia secara khusus menyoroti bandara-bandara yang belum memiliki garbarata. Menurutnya, akses naik-turun pesawat harus aman dan tidak membahayakan.
 

“Jangan lagi menggunakan tangga yang berisiko. Jika belum ada garbarata, akses harus datar, aman, dan ramah disabilitas,” tandas Erna.
 

Dorong Grand Design Bandara Inklusif
 

Lebih jauh, Erna mendorong adanya grand design nasional pengembangan bandara yang menjadikan prinsip inklusivitas sebagai fondasi utama. Ia menilai, peningkatan jumlah wisatawan tidak otomatis berdampak pada pemerataan ekonomi pariwisata jika infrastruktur dan layanan bandara masih timpang antarwilayah.
 

“Pembangunan bandara yang inklusif tidak bisa dikerjakan sendiri oleh InJourney. Harus ada kolaborasi kuat dengan Kementerian Pariwisata dan Kementerian Perhubungan agar pembangunan bandara ramah disabilitas berjalan serentak di seluruh Indonesia,” ujarnya.
 

Pengawasan Berkelanjutan DPR
 

Erna berharap, kunjungan kerja spesifik Komisi VII DPR RI ini menjadi pijakan evaluasi dan pengawasan berkelanjutan. Dengan bandara yang aman, inklusif, dan ramah disabilitas, ia optimistis manfaat ekonomi pariwisata dapat tersebar lebih adil dan dirasakan hingga ke daerah-daerah.
 

“Bandara bukan sekadar bangunan megah, tetapi cermin keadilan pelayanan negara bagi seluruh warganya,” pungkas Erna.rajamedia

Komentar: