Sahroni: Bom di MAN 3 Padang Jadi Alarm Nasional, Deteksi Dini Teror Diperketat
RAJAMEDIA.CO — Jakarta, Legislator — Kasus ledakan bom rakitan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Kota Padang, Sumatra Barat, menjadi alarm serius bagi aparat keamanan dan masyarakat. Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni meminta seluruh institusi terkait memperkuat deteksi dini terhadap potensi aksi teror, terutama yang melibatkan pelaku lone wolf.
Menurut Sahroni, ancaman radikalisme tidak boleh dianggap remeh karena dapat tumbuh di lingkungan keluarga maupun sekolah tanpa terdeteksi sejak awal.
Lone Wolf Sulit Diprediksi
Sahroni menegaskan, pengawasan terhadap anggota keluarga dan peserta didik harus lebih ditingkatkan agar gejala penyimpangan dapat dikenali sedini mungkin.
"Pengawasan terhadap anggota keluarga dan murid sekolah oleh orang sekitarnya harus lebih dimaksimalkan. Aksi lone wolf seperti ini sangat berbahaya karena sulit diprediksi. Saya minta Densus 88, intelijen, dan jajaran institusi terkait bertanggung jawab untuk memperkuat deteksi dini terhadap potensi ancaman seperti ini," ujar Sahroni, Minggu (19/7/2026).
Politikus Partai NasDem yang dikenal dengan julukan Crazy Rich Tanjung Priok itu menilai pendekatan preventif jauh lebih efektif dibandingkan penindakan setelah aksi teror terjadi.
Bhabinkamtibmas Harus Turun ke Masyarakat
Sahroni juga meminta peran Bhabinkamtibmas diperkuat sebagai ujung tombak edukasi di tengah masyarakat.
Menurutnya, penyuluhan mengenai bahaya radikalisme dan ideologi menyimpang harus menyasar sekolah, lingkungan RT/RW, tokoh agama, hingga tokoh masyarakat.
"Pencegahan dan deteksi dini adalah kunci," tegasnya.
Ia menilai keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting dalam memutus rantai penyebaran paham ekstrem sebelum berkembang menjadi tindakan kekerasan.
Keluarga dan Sekolah Jadi Benteng Pertama
Selain aparat keamanan, Sahroni menegaskan keluarga dan sekolah tetap menjadi garda terdepan dalam mengawasi perkembangan perilaku anak.
Ia meminta jajaran kepolisian bersama instansi terkait terus mengedukasi masyarakat agar lebih peka terhadap perubahan perilaku yang mengarah pada paham radikal.
"Jajaran kepolisian dan instansi terkait harus memperkuat edukasi di masyarakat karena keluarga dan sekolah tetap menjadi benteng pertama anak," ujarnya.
Menurut Sahroni, apabila ditemukan indikasi seseorang mulai terpapar ideologi menyimpang, pendekatan persuasif harus segera dilakukan dan dilaporkan kepada aparat agar dapat ditangani lebih awal.
Namun, ia menegaskan aparat harus bertindak tegas apabila ancaman tersebut telah berubah menjadi aksi teror.
"Tapi jika sudah sampai melakukan aksi teror, aparat tentu harus bertindak tegas," pungkasnya.
Bom Rakitan Diduga Dipelajari dari Internet
Seperti diberitakan sebelumnya, ledakan bom rakitan terjadi di MAN 3 Padang, Kelurahan Balai Gadang, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatra Barat, pada Selasa (14/7/2026) sekitar pukul 11.30 WIB.
Polisi telah mengamankan seorang pelajar berinisial R (17) yang diduga sebagai pelaku.
Juru Bicara Densus 88 Antiteror, Kombes Mayndra Eka Wardhana, mengungkapkan hasil pemeriksaan awal menunjukkan pelaku mengaku belajar merakit bom melalui internet.
Selain itu, pelaku juga mengaku terinspirasi oleh peristiwa bom di SMA Negeri 72 Jakarta pada 2025. Meski demikian, motif pasti masih terus didalami oleh tim penyidik.
Kasus tersebut menjadi pengingat bahwa ancaman radikalisme kini dapat berkembang melalui ruang digital. Karena itu, penguatan literasi digital, pengawasan keluarga, pendidikan di sekolah, serta deteksi dini oleh aparat dinilai menjadi kunci untuk mencegah aksi serupa terulang.
RAJA MEDIA — Cepat, Tajam, Terpercaya.![]()
Olahraga 4 hari yang lalu
Olahraga | 5 hari yang lalu
Olahraga | 5 hari yang lalu
Parlemen | 6 hari yang lalu
Nasional | 5 hari yang lalu
Olahraga | 6 hari yang lalu
Politik | 6 hari yang lalu
Hukum | 4 hari yang lalu
Nasional | 5 hari yang lalu
Parlemen | 4 hari yang lalu