Politik

Info Haji

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Otomotif

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Calon Dewan

Indeks

China Sentil AS di PBB, Hormati Kedaulatan Teluk dan Hentikan Tekanan ke Kuba

Laporan: Tim Redaksi
Minggu, 27 September 2026 | 21:41 WIB
Foto ilustrasi Raja Media Network -
Foto ilustrasi Raja Media Network -

RAJAMEDIA.CO – New York – China menyampaikan kritik tersirat terhadap kebijakan Amerika Serikat dalam Sidang Umum PBB ke-81. Wakil Presiden China Han Zheng menyerukan agar negara-negara besar menghormati hukum internasional, menjaga kedaulatan negara-negara di kawasan Teluk, serta menghentikan ancaman penggunaan kekuatan dan mencabut blokade serta sanksi terhadap Kuba.
 

Dalam pidatonya pada Sabtu (26/9/2026), Han tidak menyebut Amerika Serikat secara langsung. Namun, pernyataannya disampaikan di tengah ketegangan geopolitik terkait Iran, Kuba, dan kawasan Timur Tengah. Reuters melaporkan pernyataan tersebut sebagai dorongan balik China terhadap kebijakan Washington.
 

Negara Besar Diminta Jadi Contoh
 

Han menekankan bahwa negara-negara besar memiliki tanggung jawab khusus dalam menjaga perdamaian dan keamanan internasional.
 

“Negara-negara besar harus menjadi yang terdepan dalam mematuhi aturan, menjunjung supremasi hukum, dan melakukan apa yang benar,” ujar Han dalam pidatonya.
 

Ia juga menegaskan posisi China bahwa kedaulatan dan keamanan negara-negara di Timur Tengah, termasuk negara-negara kawasan Teluk, harus dihormati.
 

Pernyataan tersebut sejalan dengan pesan China mengenai pentingnya mempertahankan tatanan internasional berbasis hukum dan menyelesaikan perselisihan melalui dialog, bukan tindakan militer sepihak.
 

China Desak Tekanan terhadap Kuba Dihentikan
 

Dalam pidato yang sama, Han secara khusus menyoroti situasi Kuba.
 

“China mendesak negara terkait untuk segera menghentikan penggunaan ancaman kekuatan terhadap Kuba serta segera dan sepenuhnya mencabut blokade dan sanksi terhadap Kuba,” tegasnya.
 

Seruan tersebut disampaikan ketika Kuba menghadapi tekanan serius terhadap sektor energi. Reuters melaporkan jaringan listrik Kuba mengalami keruntuhan total pada September, sementara sistem pembangkit yang sudah lama menghadapi persoalan bahan bakar dan infrastruktur turut memperburuk kondisi kelistrikan di negara tersebut.
 

Ketegangan Washington-Beijing Tetap Terlihat
 

Pernyataan Han muncul hanya beberapa hari setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjamu Presiden China Xi Jinping di Gedung Putih dalam kunjungan kenegaraan.
 

Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana yang relatif hangat, tetapi sejumlah isu strategis tetap menjadi sumber ketegangan hubungan kedua negara.
 

Reuters melaporkan bahwa Trump sebelumnya memperingatkan Xi agar China tidak memberikan dukungan kepada Iran. Pada saat yang sama, terdapat laporan mengenai dugaan bantuan militer dan cara-cara menghindari sanksi minyak yang melibatkan China dan Iran, meski isu tersebut menjadi bagian dari dinamika diplomatik yang lebih luas.
 

China Tegaskan Posisi sebagai Mitra Negara Berkembang
 

Dalam pidatonya, Han juga berusaha menegaskan posisi China sebagai mitra negara-negara berkembang dan pendukung prinsip kesetaraan dalam hubungan internasional.
 

“China berpandangan bahwa semua negara, baik besar maupun kecil, memiliki kedudukan yang setara sebagai anggota komunitas internasional,” ujarnya.
 

Han juga menyerukan agar persoalan dunia ditangani melalui konsultasi bersama, bukan ditentukan secara sepihak oleh negara tertentu. Pesan tersebut menjadi bagian dari seruan China untuk memperkuat multilateralisme dan mempertahankan tatanan internasional yang berpusat pada PBB.
 

Pesan China dari Panggung PBB
 

Pidato Han memperlihatkan sejumlah isu yang menjadi perhatian China di panggung internasional: kedaulatan negara, hukum internasional, konflik di Timur Tengah, situasi Kuba, serta perlunya penyelesaian sengketa melalui dialog.
 

Meski tidak menyebut Amerika Serikat secara langsung, pernyataan mengenai Teluk dan Kuba disampaikan dalam konteks kebijakan Washington terhadap kawasan tersebut. Pada saat yang sama, hubungan Trump dan Xi tetap berlangsung melalui jalur diplomasi meski sejumlah perbedaan strategis antara Beijing dan Washington masih terlihat.
 

Sidang Umum PBB ke-81 sendiri berlangsung pada 22–28 September 2026 di Markas Besar PBB, New York, dengan para pemimpin dan perwakilan negara membahas berbagai persoalan global.
 

RAJA MEDIA – Cepat, Tegas, Terpercaya.rajamedia

Komentar: