Politik

Info Haji

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Otomotif

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Calon Dewan

Indeks

BOM Nuklir! Menag Ingatkan Kepala Daerah Tidak Main-main dengan Agama!

Laporan: Nazila Nur
Kamis, 27 Februari 2025 | 07:21 WIB
Retreat kepala daerah di Magelang dengan pemateri Menag Nasaruddin Umar- Dok Kemenag/RMN -
Retreat kepala daerah di Magelang dengan pemateri Menag Nasaruddin Umar- Dok Kemenag/RMN -

RAJAMEDIA.CO - Magelang. 27 Februari 2025 – Menteri Agama RI Nasaruddin Umar menegaskan pentingnya menjaga kerukunan umat beragama di Indonesia. Hal itu ia sampaikan saat mengajak seluruh kepala daerah yang hadir dalam Retreat di Magelang untuk ikut serta merawat harmoni antarumat beragama di Tanah Air.


Menurutnya, kerukunan menjadi salah satu kekuatan utama Indonesia di mata dunia. 

 

“Indonesia ini saya sudah meneliti, tidak ada negara yang paling plural seplural Indonesia. Ada 17 ribu pulau, 1.300 suku, 718 bahasa lokal, tidak ada negara yang seplural kita,” kata Menag, Rabu (26/2).


Menag bahkan mengungkapkan bahwa Indonesia sudah empat kali diprediksi akan bubar, seperti Uni Soviet dan Balkan. Namun, ramalan tersebut tidak terbukti. Kuncinya? Kerukunan umat beragama.

Menag Nasaruddin Umar saat mengisi retreat kepala daerah di Magelang -


“Jadi kalau umat beragama itu rukun, tidak ada kekuatan mana pun yang bisa mengacak-acak Indonesia ini,” tegasnya.


Jangan Sepelekan Peran FKUB


Menag juga mengingatkan peran strategis Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di setiap daerah. Ia meminta para kepala daerah untuk tidak mengabaikan forum ini.


“Jangan sampai nanti tidak mau membantu FKUB. Kepentingan institusi keagamaan di daerah itu sangat penting,” ujarnya.


Menurutnya, kerukunan lebih penting dari sekadar pertumbuhan ekonomi. Percuma ekspor tinggi dan kurva ekonomi meningkat jika negara justru kacau akibat konflik berbasis agama.


“Kita pernah punya pengalaman di Poso, Kalimantan, dan beberapa daerah lain. Kalau konflik berbasis agama terlambat dicegah, dampaknya bisa sangat dahsyat,” katanya.


Agama Itu Seperti Nuklir


Menag juga mengingatkan bahwa agama bisa menjadi kekuatan pembangunan sekaligus senjata pemusnah jika disalahgunakan.


“Makanya jangan coba-coba memperalat agama untuk kepentingan lokal atau jangka pendek. Dampaknya dahsyat! Agama itu seperti nuklir. Bisa jadi sumber energi murah, tapi juga bisa jadi senjata paling mematikan,” tegasnya.


Karena itu, ia mengajak para kepala daerah untuk menjadikan agama sebagai kekuatan pembangunan, bukan pemecah belah.


“Kalau kita tekankan sisi sentripetal agama, maka agama akan jadi pemicu dahsyat untuk membangun bangsa. Tapi kalau yang ditonjolkan justru sisi pemecah belahnya, itu bahaya,” pungkasnya.rajamedia

Komentar: