Politik

Info Haji

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Otomotif

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Calon Dewan

Indeks

Basarah Soroti Lapas Penuh Sesak: Jangan Mengeluh, Saatnya Cari Terobosan!

Laporan: Halim Dzul
Rabu, 24 Juni 2026 | 12:54 WIB
Anggota Komisi XIII DPR RI Ahmad Basarah  - Humas DPR -
Anggota Komisi XIII DPR RI Ahmad Basarah - Humas DPR -

RAJAMEDIA.CO - Banjarmasin, Legislator – Persoalan lembaga pemasyarakatan yang kelebihan kapasitas (overcapacity) kembali menjadi sorotan DPR RI. Anggota Komisi XIII DPR RI Ahmad Basarah menegaskan bahwa masalah yang telah berlangsung bertahun-tahun itu tidak boleh terus dijadikan alasan tanpa diikuti langkah-langkah terobosan yang nyata.
 

Saat melakukan Kunjungan Kerja Spesifik Komisi XIII DPR RI ke Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Selasa (23/6/2026), Basarah menilai persoalan overcapacity dan keterbatasan sumber daya manusia (SDM) merupakan tantangan serius yang hingga kini belum menemukan solusi efektif.
 

“Persoalan overcapacity dan keterbatasan SDM sudah berlangsung bertahun-tahun. Karena itu, semua pihak harus mulai fokus mencari jalan keluar yang konkret,” ujar Basarah.
 

Jangan Terjebak pada Keluhan
 

Politisi PDI Perjuangan itu mengingatkan bahwa berbagai kendala yang dihadapi lembaga pemasyarakatan tidak boleh hanya menjadi bahan evaluasi tanpa aksi nyata.
 

Menurutnya, seluruh pemangku kepentingan di sektor pemasyarakatan harus berani menghadirkan alternatif solusi yang mampu meningkatkan kualitas pembinaan warga binaan, meski di tengah berbagai keterbatasan.
 

“Komisi XIII DPR RI mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk mencari solusi-solusi alternatif, bukan sekadar mengeluhkan persoalan overcapacity dan kekurangan SDM yang belum terselesaikan,” tegasnya.
 

Basarah menilai pendekatan inovatif jauh lebih penting dibanding terus berkutat pada daftar masalah yang sama dari tahun ke tahun.
 

Program Pendidikan Jadi Contoh Positif
 

Dalam kunjungan tersebut, Basarah mengaku mengapresiasi salah satu program yang dijalankan Lapas Kelas IIA Banjarmasin, yakni penyelenggaraan pendidikan formal bagi warga binaan.
 

Program itu mencakup pendidikan jenjang SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi melalui kerja sama dengan berbagai lembaga pendidikan.
 

Menurutnya, langkah tersebut merupakan contoh nyata bagaimana lembaga pemasyarakatan tetap mampu meningkatkan kualitas pembinaan meski berada dalam kondisi serba terbatas.
 

“Nah, menurut hemat saya, terobosan seperti ini harus menjadi role model bagi lapas-lapas lain di seluruh Indonesia,” katanya.
 

Siapkan Usulan untuk Menteri Imipas
 

Basarah menilai keberhasilan program pendidikan di Kalimantan Selatan layak direplikasi secara nasional.
 

Karena itu, hasil temuan dalam kunjungan kerja tersebut akan dibawa dan diusulkan kepada Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan agar dapat diterapkan di berbagai lapas lainnya.
 

Menurutnya, pembinaan yang berorientasi pada pendidikan dan peningkatan kapasitas warga binaan merupakan salah satu cara efektif untuk menciptakan sistem pemasyarakatan yang lebih manusiawi dan produktif.
 

“Apa yang kami temukan di Kalimantan Selatan akan kami usulkan kepada Menteri Imipas agar menjadi role model bagi seluruh lapas di Indonesia,” ujarnya.
 

Lapas Butuh Inovasi, Bukan Sekadar Evaluasi
 

Bagi Komisi XIII DPR RI, persoalan overcapacity memang belum dapat diselesaikan secara instan. Namun kondisi tersebut tidak boleh menghambat lahirnya inovasi dan program-program pembinaan yang bermanfaat bagi warga binaan.
 

Basarah menegaskan, keberhasilan sebuah lapas tidak hanya diukur dari kemampuan menjaga keamanan, tetapi juga dari kemampuannya mempersiapkan warga binaan agar kembali ke masyarakat dengan keterampilan, pendidikan, dan harapan hidup yang lebih baik.
 

“Di tengah berbagai keterbatasan, yang dibutuhkan adalah kreativitas, inovasi, dan keberanian mencari solusi,” pungkasnya.rajamedia

Komentar: