Politik

Info Haji

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Otomotif

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Calon Dewan

Indeks

Allah Membela Agama-Nya: Pelajaran-Pelajaran Dari Epstein’s File

Oleh: Shamsi Ali Al-Nuyorki
Kamis, 12 Februari 2026 | 16:45 WIB
Direktur/Imam Jamaica Muslim Center & Presiden Nusantara Foundation, Shamsi Ali Al-Nuyorki
Direktur/Imam Jamaica Muslim Center & Presiden Nusantara Foundation, Shamsi Ali Al-Nuyorki

RAJAMEDIA.CO - Dalam beberapa hari terakhir ini ada beberapa hal yang menjadi perbincangan dunia, bahkan tidak berlebihan jika saya menyebutnya menjadi goncangan hebat dunia. Selain kemungkinan serangan Amerika ke Iran untuk memuaskan nafsu hewani Benjamin Natanyahu, juga pembentukan apa yang disebut Board of Peace gagal menghentikan pembantaian yang terus terjadi di Palestina, baik di Gaza maupun Ramallah (West Bank).


Negara-Negara Islam yang menjadi anggota di Badan itu hanya bisa mempertontonkan sikap banci dan mental kerdil, takut dijewer oleh Donald Trump.


Namun barangkali yang juga cukup menggoncang pemberitaan dunia adalah dibukanya (released) apa yang telah bertahun-tahun menjadi tuntutan masyarakat untuk dibuka (released): Epstein Files. Bagi yang belum mengetahui, Epstein Files adalah kumpulan dokumen, gambar, dan video yang terkait dengan kasus Jeffrey Epstein, seorang finansial Yahudi Amerika yang dihukum karena kejahatan seks anak.


Dokumen-dokumen ini dikumpulkan sebagai bukti dalam kasus kriminal terhadap Epstein dan rekan-rekannya, dan berisi informasi tentang lingkaran sosial Epstein, termasuk tokoh-tokoh publik, politisi, dan selebriti seperti Donald Trump, Bill Clinton, Ehud Barak, Ellon Musk, Bill Gates, Endrew Cuomo, hingga pangeran Inggris, Saudi Arabia dan Uni Emirates, dan lain-lain.


Tereksposnya file yang setebal 3 juta lebih halaman, memuat berbagai hal, termasuk komunikasi antara Epstein, pelaku dan penjual anak-anak di bawah umur untuk pemuas nafsu para tokoh itu, juga memuat ribuan foto dan video mereka yang terlibat dalam kejahatan seksual anak-anak di bawah umur tersebut. Sebagian survivors (mantan korban) sejak lama berjuang untuk ditegakkannya keadilan dan hak-hak mereka dipulihkan.


Namun karena melibatkan orang-orang kuat, baik dalam perpolitikan dan keuangan, tuntutan mereka selama ini bagaikan angin yang berlalu tanpa bekas. Barulah di bulan Januari kemarin, disebabkan oleh kemarahan publik atas berbagai kebijakan Donald Trump, file-file tersebut dikeluarkan. Itu pun oleh sebagian ahli dinyatakan telah mengalami sensor yang ketat.


Allah Menguatkan Kebenaran dan Membongkar Kebatilan


Pada titik keimanan kita sangat yakin bahwa betapapun pahitnya perjuangan di jalan kebenaran, satu hal yang pasti adalah Allah akan selalu berada di pihak kebenaran. Kesimpulan ini mengingatkan saya kembali bisikan yang pernah saya sampaikan ke Presiden Bush pada pertemuan antara Presiden Amerika dan tokoh-tokoh agama di New York pasca 9/11.


Saya sampaikan: “Mr. President, indeed God is with Truth” (Bapak Presiden, sungguh Tuhan itu bersama dengan kebenaran). Pernyaaan saya ini mengoreksi statemen Bush sehari sebelumnya: “God is with America” (Tuhan bersam Amerika).


Saya merasa bahwa eksposur prilaku tokoh-tokoh Amerika dan Barat ini, juga segelintir tokoh-tokoh Timur Tengah dan belahan dunia lainnya, merupakan salah satu cara Allah membela kebenaran agama-Nya dengan cara-Nya sendiri. Dengan peristiwa ini saya diingatkan oleh ayat-ayat Al-Quran yang berbicara tentang ketetapan dan kepastian Allah dalam membela dan memenangkan kebenaran. Saya hanya mengutip dua ayat dari Al-Quran di bawah ini.


Pertama, Surah As-Shoff ayat ke 8:


يُرِيدُونَ لِيُطۡفِئُواْ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفۡوَٰهِهِمۡ وَٱللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡكَٰفِرُونَ


"Mereka ingin memadamkan cahaya Allah (kebenaran) tapi Allah terus menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang kafir itu membencinya".


Kedua, Surah Al-Anfal Ayat ke 8:


لِيُحِقَّ ٱلۡحَقَّ وَيُبۡطِلَ ٱلۡبَٰطِلَ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُجۡرِمُونَ


"Untuk Allah tegakkan kebenaran dan menghancurkan kebatilan, walaupun para penjahat itu membencinya".


Kedua ayat ini menjadi sangat relevan dengan kejadian pembongkaran kejahatan seksual terhadap anak-anak wanita di bawah umur melalui kasus file-file Epstein ini. Bagaimana upaya mereka untuk memburukkan wajah Islam dan pemeluknya dengan berbagai tuduhan, kini justeru berbalik menampar wajah mereka sendiri.


Kita mengenal bahwa sejak lama ada upaya-upaya sistimatis, didukung oleh kekuatan sistem; politik, ekonomi/keuangan, media dan lain-lain untuk menampilkan wajah Islam yang buruk, kotor, menyeramkan/menakutkan. Bahkan Islam ditampilkan sebagai ajaran agama yang tidak sesuai dengan gaya hidup Barat yang ditampilkan sebagai bentuk peradaban yang maju dan modern.


Lebih jauh bahkan Islam ditampilkan sebagai musuh dan ancaman yang harus dieliminir. Upaya ini yang kemudian terwujudkan dalam bentuk Islamophobia dan anti Islam di berbagai belahan dunia, khususnya Amerika dan Eropa.


Salah satu tuduhan jahat kepada agama Islam dan pemeluknya adalah bahwa Islam dan umatnya tidak menghargai wanita, dan cenderung menjadikan mereka sebagai warga negara kelas dua (second class citizen).


Bahkan lebih jahat lagi Islam dituduh sebagai agama yang menempatkan wanita sebagai alat pemuas nafsu seksual bagi kaum pria. Lebih jauh mereka menuduh Rasulullah tanpa verifikasi dan klarifikasi mengawini anak di bawah umur (kasus Aisya). Tuduhan-tuduhan ini kemudian mereka justifikasi dengan beberapa praktek budaya jahil di beberapa negara Islam, seperti Afghanistan, Sudah, dan lain-lain.


Saya tidak ingin merincikan lagi tuduhan mereka. Justeru yang ingin saya garis bawahi adalah betapa Allah bekerja di balik layar dan di luar nalar manusia untuk membela kebenaran agamanya.


Kini mereka yang selama ini mengaku dan berteriak sebagai pembela kehormatan dan kebebasan wanita, kini justeru terekspos sebagai “monster-monster” (penjahat-penjahat) yang menghinakan, merendahkan, dan memanipulasi wanita-wanita di bawah umur untuk memuaskan hawa nafsu syetan mereka. Dengan prilaku syetan mereka, kini terekspos secara jelas bahwa apa yang diakui sebagai “peradaban” di dunia Barat bukanlah peradaban yang menjadi solusi dan impian kemanusiaan.


Sebaliknya, di sinilah Islam hadir dengan kepala tegak bahwa sistem kehidupan yang diajarkannya untuk manusia adalah betuk peradaban yang sejalan dengan kemaslahatan, kemanfaatan dan kebaikan bagi umat manusia. Dari aturan-aturan mendasar tentang hubungan antar jenis; pelarangan mendekati apalagi melakukan zina, hingga ke etika bergaul bahkan berpakaian sekalipun.


Bahkan yang paling mendasar adalah bagaimana wanita diberikan hak-hak dasar; kebebasan, kemuliaan (dignity), serta diposisikan sebagai bagian hamba-hamba Allah yang sejajar, senyawa dan saling melengkapi (hunna libaas lakum) dengan kaum pria dalam membangun kehidupan dan peradaban sejati.


Wahai Amerika, wahai dunia Barat; Islam bukan ancaman. Islam hadir sebagai solusi dan penyelamat bagi kehidupan dan peradaban kalian yang berada di ambang kehancurannya. “aslim, taslam!”


Manhattan, 11 Februari 2026


Shamsi Ali Al-Nuyorki 
Direktur/Imam Jamaica Muslim Center & Presiden Nusantara Foundationrajamedia

Komentar: