Politik

Info Haji

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Otomotif

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Calon Dewan

Indeks

Tentang Prabowo: Dulu Membenci, Kini Memuja!

Oleh: H. Dede Zaki Mubarok
Sabtu, 05 April 2025 | 06:12 WIB
Prabowo Subianto saat kampanye pilpres 2019 di Jogyakarta - Repro -
Prabowo Subianto saat kampanye pilpres 2019 di Jogyakarta - Repro -

RAJAMEDIA.CO - SAYA mengenal politik sebagai panggung sandiwara yang sering membingungkan, tapi juga menghibur. Kadang dramanya terlalu lebay, kadang justru terlalu sunyi. Tapi yang ini agak menarik: yang dulu maki-maki Prabowo, sekarang duduk manis di sebelahnya.
 

Bahkan tersenyum manis pula.
 

Sebaliknya, yang dulu berjuang di belakangnya. Yang dulu pasang badan saat semua pintu tertutup. Yang rela ditertawakan karena mendukung “jenderal kalah” itu—sekarang malah tidak terlihat lagi. Hilang dari lingkaran.
 

Ada apa ini?
 

Yang Datang dan Yang Pergi
 

Saya melihat sendiri. Tahun-tahun lalu, ketika Prabowo masih kalah, banyak yang menjaga jarak. Bahkan cenderung sinis.
 

Yang paling lucu, beberapa dari mereka kini seperti orang yang sedang jatuh cinta. Pujian dilempar ke mana-mana. Dulu ragu pada komitmennya terhadap demokrasi, sekarang memuji jiwa kebangsaannya.
 

Lucunya lagi, mereka yang dulu setia—yang bahkan ikut menangis saat Prabowo kalah lagi di 2019—sekarang justru disisihkan.
 

Alasannya tidak pernah jelas. Tapi yang jelas, bangku mereka sekarang sudah diduduki orang lain.
 

Politik Bukan Tentang Setia
 

Saya jadi teringat ucapan klasik Winston Churchill: “In politics, there are no permanent friends or enemies, only permanent interests.”
 

Prabowo tampaknya paham betul soal itu.
 

Ia tidak sentimental. Tidak dendam. Yang dulu menentangnya pun bisa diajak masuk. Bahkan diberi peran penting.
 

Saya tidak tahu apakah itu strategi atau ketulusan. Tapi yang jelas, politik adalah seni bertahan, bukan sekadar soal balas budi.
 

Dan yang Menonton: Kita
 

Publik mungkin tak bisa berbuat apa-apa, tapi mereka tidak bodoh.
 

Mereka mencatat siapa yang dulu berdiri saat perahu hampir karam. Dan siapa yang baru naik saat kapal sudah megah dan layar sudah terkembang.
 

Yang menarik, publik tidak selalu memihak yang menang. Kadang, simpati justru diberikan kepada mereka yang kalah—tapi tulus.
 

Prabowo kini punya kekuasaan. Tapi kekuasaan bukan segalanya. Yang lebih penting adalah: siapa yang ada bersamamu saat semua orang pergi? Dan siapa yang bersamamu sekarang, saat semua orang datang?
 

Pertanyaan sederhana. Tapi jawabannya menentukan arah sejarah.

 

Penulis: Wartawan senior, Ketua Etik DPP PJS, Wabendum IKALUIN Jakarta, Pimred Raja Media*rajamedia

Komentar:
BERITA LAINNYA
Ilustrasi suasana setelah idufitri 1446 H - Istimewa -
Kampung Halaman
Kamis, 03 April 2025
Ilustrasi -
Hari Baru, Janji Lama
Rabu, 02 April 2025
Presiden Prabowo Subianto menerima ribuan rakyat di Istana, seusai salat Idulfitri, yang disebut Gelar Griya Idulfitri 1446 H. - BPMI Setpres -
Ketika Istana Membuka Pintu
Selasa, 01 April 2025
Ilustrasi ketupat lebaran - freepik -
Ketupat Lalu Pergi
Selasa, 01 April 2025
Ilustrasi gema takbir - Foto: Dok Kemenag -
Gema Takbir Berkumandang
Senin, 31 Maret 2025