Politik

Info Haji

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Otomotif

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Calon Dewan

Indeks

Ekonomi RI Tumbuh 5,45 Persen, Apakah Daya Beli Rakyat Ikut Menguat?

Laporan: Tim Redaksi
Minggu, 25 Oktober 2026 | 06:34 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto  - RMN -
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto - RMN -

RAJAMEDIA.CO — Jakarta — Pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,45 persen pada Semester I 2026. Pemerintah menilai capaian tersebut menunjukkan ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global. Namun, pertanyaan penting tetap mengemuka: apakah pertumbuhan ekonomi itu juga diikuti penguatan daya beli masyarakat?
 

Pertanyaan tersebut menjadi penting karena pertumbuhan ekonomi tidak selalu langsung mencerminkan kondisi keuangan seluruh rumah tangga. Masyarakat juga merasakan dampak perubahan harga kebutuhan pokok, pendapatan, kesempatan kerja, dan biaya hidup sehari-hari.
 

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto melaporkan perkembangan ekonomi tersebut kepada Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Kabinet Paripurna di Jakarta, Rabu (21/10/2026).
 

Pemerintah menyampaikan sejumlah indikator yang menunjukkan aktivitas ekonomi tetap berjalan. Akan tetapi, untuk menilai apakah kesejahteraan masyarakat benar-benar meningkat, angka pertumbuhan perlu dibaca bersama data inflasi, konsumsi rumah tangga, pendapatan riil, dan kondisi ketenagakerjaan.
 

Pertumbuhan Ekonomi Tembus 5,45 Persen
 

Berdasarkan keterangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Semester I 2026 mencapai 5,45 persen. Sementara itu, secara tahunan, ekonomi pada Triwulan II 2026 tumbuh 5,29 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
 

Pemerintah menilai capaian tersebut relatif kuat dibandingkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang berada di sekitar 3 persen.
 

Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan, konstruksi, serta sektor jasa menjadi bagian dari aktivitas ekonomi yang menopang pertumbuhan nasional. Investasi juga menunjukkan perkembangan positif.
 

Namun, pertumbuhan ekonomi secara agregat belum cukup untuk menjawab apakah setiap kelompok masyarakat mengalami peningkatan kesejahteraan.
 

Pertumbuhan yang berkualitas semestinya turut tercermin pada bertambahnya lapangan kerja produktif, membaiknya pendapatan riil, dan meningkatnya kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan dasar.
 

PMI Manufaktur Menguat, Aktivitas Produksi Ekspansif
 

Indikator manufaktur juga memberikan sinyal positif. PMI manufaktur Indonesia pada September 2026 tercatat sebesar 52,4, naik dari 49,8 pada Agustus 2026.
 

Angka di atas 50 menunjukkan aktivitas manufaktur berada di zona ekspansi. Perkembangan ini dapat menjadi petunjuk membaiknya kegiatan produksi dan kondisi usaha.
 

Meski demikian, peningkatan aktivitas industri perlu diikuti perkembangan yang nyata pada penyerapan tenaga kerja dan pendapatan pekerja.
 

Bagi masyarakat, pertumbuhan produksi akan lebih berarti apabila disertai peluang kerja yang lebih luas, penghasilan yang memadai, dan kestabilan harga barang yang dibutuhkan sehari-hari.
 

Inflasi Menjadi Salah Satu Penentu Daya Beli
 

Salah satu indikator penting untuk membaca daya beli adalah inflasi. Badan Pusat Statistik mencatat inflasi tahunan pada September 2026 sebesar 3,28 persen, sedangkan inflasi bulanan tercatat 0,30 persen.
 

Data Bank Indonesia menunjukkan inflasi tahunan September meningkat dibandingkan Agustus yang sebesar 3,19 persen. Inflasi inti pada September tercatat 2,84 persen, sedangkan inflasi kelompok harga bergejolak mencapai 5,03 persen.
 

Angka tersebut memperlihatkan bahwa tekanan harga tidak sama pada setiap kelompok barang dan jasa. Perubahan harga pangan, transportasi, perumahan, serta kebutuhan lainnya dapat memengaruhi pengeluaran rumah tangga secara berbeda.
 

Namun, inflasi saja tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa daya beli masyarakat melemah. Penilaian yang lebih lengkap membutuhkan perbandingan antara kenaikan harga dan perubahan pendapatan masyarakat.
 

Apabila pendapatan meningkat lebih cepat daripada harga, daya beli berpotensi menguat. Sebaliknya, jika pendapatan tertinggal dari kenaikan biaya hidup, rumah tangga dapat mengalami tekanan keuangan.
 

Karena itu, perkembangan inflasi perlu dibaca bersama data upah riil, konsumsi rumah tangga, dan pengeluaran masyarakat.
 

Pengangguran dan Kemiskinan arah Perkembangan Positif
 

Dalam paparan mengenai kinerja Semester I 2026, pemerintah menyebut tingkat pengangguran terbuka sebesar 4,65 persen. Pemerintah juga melaporkan tingkat kemiskinan sebesar 8,07 persen pada Maret 2026, dengan jumlah penduduk miskin mencapai 22,93 juta orang.
 

Kedua indikator tersebut memberikan gambaran penting mengenai kondisi sosial ekonomi masyarakat.
 

Namun, angka pengangguran tidak sepenuhnya menjelaskan kualitas pekerjaan yang tersedia. Demikian pula, penurunan kemiskinan belum otomatis berarti seluruh kelompok masyarakat mengalami peningkatan daya beli dalam besaran yang sama.
 

Kualitas pekerjaan, besaran upah, kepastian kerja, dan biaya hidup tetap perlu diperhatikan. Masyarakat yang bekerja pun dapat menghadapi tekanan ekonomi apabila penghasilan yang diterima belum cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
 

Karena itu, ukuran keberhasilan ekonomi perlu mencakup bukan hanya jumlah orang yang bekerja, tetapi juga kualitas pekerjaan dan kecukupan pendapatan.
 

Cadangan Devisa Kuat, Kredit Perbankan Tumbuh
 

Dari sisi eksternal, Bank Indonesia mencatat cadangan devisa pada akhir September 2026 sebesar US$146,3 miliar. Jumlah tersebut setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor, di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
 

Sementara itu, pertumbuhan kredit perbankan pada September 2026 tercatat sebesar 13,26 persen secara tahunan. Kredit investasi tumbuh 23,20 persen, kredit modal kerja 11,89 persen, dan kredit konsumsi 4,86 persen.
 

Dari sisi ketahanan perbankan, rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) pada Agustus 2026 tercatat 24,10 persen. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) bruto pada periode yang sama berada di level 2,11 persen.
 

Angka-angka tersebut menunjukkan sejumlah indikator ketahanan eksternal dan perbankan masih terjaga.
 

Meski demikian, pertumbuhan kredit tidak otomatis berarti daya beli seluruh masyarakat meningkat. Dampaknya bergantung pada siapa yang memperoleh pembiayaan, untuk keperluan apa kredit digunakan, serta apakah pembiayaan tersebut menghasilkan kegiatan ekonomi dan pendapatan yang berkelanjutan.
 

Stimulus Pemerintah Diuji Dampaknya
 

Untuk menjaga momentum pertumbuhan dan daya beli, pemerintah menyiapkan berbagai stimulus ekonomi.
 

Program yang diumumkan mencakup bantuan pangan berupa beras 10 kilogram per bulan bagi 33,24 juta keluarga penerima manfaat, subsidi upah bagi 13,3 juta pekerja, serta insentif transportasi pada periode Natal 2026 dan Tahun Baru 2027.
 

Kebijakan tersebut diarahkan untuk menjaga konsumsi masyarakat dan membantu kelompok yang membutuhkan dukungan.
 

Namun, efektivitas stimulus tidak cukup dinilai dari jumlah penerima atau besarnya anggaran yang diumumkan. Pemerintah perlu memastikan bantuan tersalurkan tepat sasaran, diterima sesuai jadwal, dan benar-benar membantu meringankan pengeluaran rumah tangga.
 

Evaluasi juga diperlukan untuk mengetahui apakah stimulus hanya memberikan dorongan sementara atau turut membantu memperkuat daya tahan ekonomi keluarga dalam jangka lebih panjang.
 

Pertumbuhan Ekonomi Harus Terasa di Rumah Tangga
 

Pertumbuhan ekonomi 5,45 persen pada Semester I 2026 merupakan capaian yang penting. Penguatan PMI manufaktur, perkembangan investasi, dan ketahanan sektor keuangan juga memberikan gambaran positif mengenai sejumlah aspek perekonomian nasional.
 

Namun, angka pertumbuhan belum cukup untuk memastikan bahwa daya beli masyarakat ikut menguat.
 

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, perkembangan konsumsi rumah tangga, pendapatan riil, inflasi, upah, dan pengeluaran masyarakat perlu diperiksa secara bersamaan.
 

Bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan ekonomi menghasilkan manfaat yang lebih luas: kesempatan kerja yang layak, pendapatan yang memadai, harga kebutuhan pokok yang terjangkau, dan kesejahteraan yang semakin merata.
 

Pada akhirnya, keberhasilan ekonomi tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi pertumbuhan nasional, tetapi juga oleh seberapa nyata manfaatnya dirasakan masyarakat.
 

RAJAMEDIA.CO — Cepat, Tegas, Terpercaya.rajamedia

Komentar: