Stok Beras Melimpah, Alex Indra Minta Pemerintah Siapkan Peta Jalan Ekspor
RAJAMEDIA.CO - Jakarta, Legislator — Melimpahnya stok beras nasional mulai memunculkan tantangan baru. Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman, meminta pemerintah segera menyusun peta jalan ekspor beras produksi petani dalam negeri agar surplus produksi tidak menjadi beban baru bagi sektor pangan nasional.
Permintaan itu disampaikan Alex menyusul data stok beras yang mencapai sekitar 3,53 juta ton pada akhir 2025, angka yang dinilai cukup besar dan perlu diantisipasi dengan strategi pasar yang jelas.
Siapkan Strategi Rebut Pasar Global
Alex menilai Indonesia tidak bisa hanya berfokus pada peningkatan produksi. Pemerintah juga harus menyiapkan strategi agar beras nasional mampu bersaing di pasar internasional.
Menurutnya, tantangan utama saat ini adalah menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan kualitas beras agar kompetitif dengan negara produsen lain di kawasan Asia.
“Tantangan kita hari ini adalah menurunkan biaya produksi dan memperbaiki mutu sehingga kita bisa bersaing dengan negara produsen beras lainnya dalam merebut potensi pasar global,” ujar Alex saat bersilaturahmi dengan penyuluh pertanian se-Sumatra Barat di Kota Padang, Sabtu (7/3/2026).
Inovasi Sawah Pokok Murah Jadi Solusi
Dalam pertemuan tersebut, Alex juga menyoroti inovasi pertanian yang lahir dari daerah. Ia menyebut seorang petani inovatif asal Sumatra Barat, Ir Djoni, berhasil mengembangkan metode Sawah Pokok Murah yang mampu menekan biaya produksi.
Metode ini dinilai cukup revolusioner karena tidak memerlukan pengolahan tanah yang biasanya menjadi komponen biaya terbesar dalam budidaya padi.
Selain itu, metode tersebut juga tidak membutuhkan pemupukan kimia maupun penyemprotan pestisida dan fungisida secara intensif. Bahkan dalam kondisi kemarau, metode ini dinilai tetap mampu menjaga produktivitas sehingga risiko gagal panen dapat ditekan.
Menurut Alex, inovasi tersebut telah diuji di berbagai kabupaten/kota di Sumatra Barat dan hasilnya tidak kalah dengan metode konvensional.
“Walaupun topografi daerahnya perbukitan sehingga tidak memiliki hamparan sawah luas, Sumatera Barat sudah lama mampu mencapai swasembada beras,” katanya.
Mutu Beras Masih Jadi Tantangan
Meski stok melimpah, Alex menilai Indonesia masih menghadapi persoalan kualitas beras, terutama terkait tingginya angka patahan (broken) atau menir.
Ia menyebut kadar broken pada beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) saat ini berkisar 25–40 persen, jauh di atas standar negara produsen beras di Asia Tenggara yang rata-rata berada di kisaran 5 persen.
Karena itu, Alex meminta pemerintah melibatkan lembaga riset dan perguruan tinggi untuk mencari solusi peningkatan kualitas beras nasional.
“Masalah ini membutuhkan campur tangan lembaga riset seperti Badan Riset dan Inovasi Nasional serta dunia perguruan tinggi agar kualitas beras kita bisa bersaing,” jelasnya.
Tantangan Program Swasembada Pangan
Alex juga mengingatkan bahwa keberhasilan program peningkatan produksi pangan yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto melalui agenda Asta Cita harus diimbangi dengan strategi penyerapan hasil panen.
Jika produksi terus meningkat sementara konsumsi domestik stagnan, maka stok beras akan terus menumpuk.
“Produksi terus ditingkatkan melalui intensifikasi dan ekstensifikasi. Tapi daya serap dalam negeri tidak bertambah signifikan. Stok melimpah ini nantinya mau diapakan? Ini tantangan yang harus segera dijawab,” tegasnya.![]()
Dunia 4 hari yang lalu
Nasional | 4 hari yang lalu
Nasional | 4 hari yang lalu
Daerah | 4 hari yang lalu
Opini | 6 hari yang lalu
Opini | 2 hari yang lalu
Opini | 4 hari yang lalu
Dunia | 6 hari yang lalu
Dunia | 3 hari yang lalu
Hukum | 3 hari yang lalu