Politik

Info Haji

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Otomotif

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Calon Dewan

Indeks

Puncak Haji 2026 di Depan Mata, Komnas Haji Warning Tragedi Muzdalifah Jangan Terulang!

Laporan: Firman
Jumat, 22 Mei 2026 | 14:40 WIB
Ketua Komnas Haji Mustolih Siradj - Foto: Dok Komnas Haji/RMN -
Ketua Komnas Haji Mustolih Siradj - Foto: Dok Komnas Haji/RMN -

RAJAMEDIA.CO — Mekkah —  Puncak ibadah haji 1447 H/2026 tinggal menghitung hari. Pada 25 Mei 2026 mendatang, sekitar 1,6 juta jemaah haji dari seluruh dunia, termasuk Indonesia, akan bergerak serentak menuju rangkaian utama ibadah haji di Armuzna: Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
 

Namun di balik kekhusyukan ibadah itu, ancaman klasik kembali menghantui: kemacetan, keterlambatan transportasi, kelelahan ekstrem, hingga risiko kematian jemaah.
 

Ketua Komnas Haji Mustolih Siradj mengingatkan tragedi pergerakan jemaah dari Muzdalifah menuju Mina yang terjadi pada musim haji 2023 dan 2025 jangan sampai terulang kembali.
 

Muzdalifah Jadi Titik Paling Rawan
 

Menurut Mustolih, persoalan paling krusial selama prosesi Armuzna terjadi saat jemaah bergerak dari Muzdalifah menuju Mina.
 

Pada musim haji sebelumnya, banyak bus pengangkut jemaah terjebak kemacetan parah hingga gagal masuk area Muzdalifah tepat waktu.
 

Akibatnya, ribuan jemaah terpaksa berjalan kaki menuju Mina di tengah cuaca ekstrem yang bisa mencapai 50 derajat Celsius.
 

“Kondisi itu membuat fisik dan energi jemaah terkuras, menyebabkan kelelahan, dehidrasi, jatuh sakit bahkan memicu kematian,” ujar Mustolih dalam keterangannya dari Mekkah Al-Mukarromah, Jumat (22/5/2026).
 

Jemaah Harus Kejar Tahapan Ibadah
 

Situasi makin berat karena setelah tiba di Mina, jemaah masih harus menjalani rangkaian ibadah berikutnya.
 

Mulai dari lempar jumrah di Jamarat, lalu kembali ke Mekkah untuk tawaf ifadah, sai, hingga tahallul.
 

Beban fisik yang berat dalam kondisi cuaca panas ekstrem disebut menjadi ancaman serius, terutama bagi jemaah lansia dan berisiko tinggi.
 

Komnas Haji Minta Koordinasi Diperketat
 

Mustolih menegaskan pengelolaan Muzdalifah harus menjadi perhatian utama Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH).
 

Ia meminta koordinasi dengan syarikah atau perusahaan penyedia transportasi diperkuat agar tidak terjadi lagi keterlambatan bus.
 

Selain itu, perubahan kebijakan otoritas Arab Saudi yang bisa terjadi sangat cepat juga harus diantisipasi dengan komunikasi dan kesiapsiagaan petugas yang maksimal.
 

“Harus cermat, cepat, dan akurat membaca situasi yang berubah dalam hitungan menit,” tegasnya.
 

Lansia dan Perempuan Harus Diprioritaskan
 

Komnas Haji juga meminta kelompok rentan seperti lansia, jemaah risiko tinggi (risti), dan perempuan mendapat prioritas pelayanan selama prosesi Armuzna.
 

Menurut Mustolih, keselamatan jemaah harus menjadi fokus utama di tengah padatnya mobilitas jutaan manusia dalam waktu bersamaan.
 

Ia juga mengingatkan jemaah agar tidak terpisah dari rombongan dan selalu mengikuti arahan petugas haji.
 

Berharap Armuzna 2026 Lancar
 

Mustolih berharap seluruh rangkaian ibadah haji tahun ini berjalan lancar dan tidak kembali memunculkan tragedi kemanusiaan akibat buruknya pengelolaan pergerakan jemaah.
 

“Jika situasi di Muzdalifah bisa terkendali dan dikelola dengan baik, biasanya pergerakan di Mina juga relatif bisa tertangani,” pungkasnya.rajamedia

Komentar: