Politik

Info Haji

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Otomotif

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Calon Dewan

Indeks

Oleh Soleh Minta Latsarmil SPPI Dihentikan: Jangan Anggap Murah Nyawa Anak Bangsa!

Laporan: Tim Redaksi
Senin, 29 Juni 2026 | 04:33 WIB
Anggota Komisi I DPR RI Oleh Soleh - Humas DPR -
Anggota Komisi I DPR RI Oleh Soleh - Humas DPR -

RAJAMEDIA.CO – Jakarta, Legislator - Gelombang kritik terhadap pelaksanaan Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) 2026 semakin menguat. Setelah lima peserta meninggal dunia dalam kurun kurang dari dua pekan, Anggota Komisi I DPR RI Oleh Soleh mendesak Kementerian Pertahanan (Kemhan) menghentikan sementara seluruh kegiatan pelatihan dan melakukan evaluasi total.
 

Politisi Fraksi PKB itu menilai hilangnya lima nyawa peserta tidak bisa dianggap sebagai insiden biasa. Menurutnya, keselamatan peserta harus menjadi prioritas utama dalam setiap program negara.
 

"Peristiwa meninggalnya lima orang calon manajer Kopdes Merah Putih ini merupakan masalah yang sangat serius. Jangan anggap enteng nyawa manusia yang meninggal," tegas Oleh Soleh, Minggu (29/6/2026).
 

Korban Terus Bertambah
 

Desakan tersebut muncul setelah Kementerian Pertahanan mengonfirmasi jumlah peserta yang meninggal dunia bertambah menjadi lima orang.
 

Korban terakhir adalah Nola Dya Sari yang mengikuti Latsarmil di Satuan Pendidikan Dudik Bela Negara Kalimantan.
 

Sebelumnya, empat peserta lain yang meninggal dunia adalah Yonanda Muhammad Taufiq (17 Juni), Anisa Muyassaroh (18 Juni), Novia Rahmadhani Sihotang (22 Juni), dan Muhammad Rifki Renaldi Gunawan (25 Juni 2026).
 

Rangkaian peristiwa tersebut memunculkan pertanyaan serius mengenai sistem pelatihan, pemeriksaan kesehatan, hingga kesiapan penanganan medis selama program berlangsung.
 

Minta Pelatihan Dihentikan Sementara
 

Oleh Soleh menegaskan Kemhan harus segera menghentikan sementara pelaksanaan Latsarmil SPPI agar dapat dilakukan evaluasi secara menyeluruh.
 

Menurutnya, langkah itu penting untuk memastikan tidak ada lagi korban jiwa selama program berlangsung.
 

Ia mengingatkan bahwa para peserta merupakan generasi muda yang mendaftar dengan semangat mengabdi sebagai calon manajer Koperasi Desa Merah Putih dan Koperasi Kampung Nelayan Merah Putih.
 

"Mereka adalah anak-anak bangsa yang ingin berkontribusi bagi pembangunan ekonomi desa. Karena itu setiap nyawa yang hilang harus menjadi perhatian serius dan tidak boleh dianggap sebagai hal biasa," ujarnya.
 

Peserta Sipil, Bukan Prajurit
 

Selain meminta penghentian sementara, Oleh Soleh juga mendorong perubahan total terhadap pola pembinaan dan pelatihan yang diterapkan dalam program SPPI.
 

Menurutnya, peserta berasal dari kalangan masyarakat sipil sehingga pola latihan tidak bisa disamakan dengan pendidikan militer bagi prajurit TNI.
 

"Harus ada evaluasi dan perbaikan total terhadap pola pembinaan. Mereka masyarakat sipil, bukan tentara. Beban latihan fisik harus disesuaikan dengan kemampuan peserta," tegas legislator dari Daerah Pemilihan Jawa Barat XI tersebut.
 

Transparansi Jadi Kunci
 

Oleh Soleh menegaskan tujuan utama SPPI adalah mencetak sumber daya manusia yang mampu mengelola Koperasi Desa Merah Putih dan mendorong pembangunan ekonomi di desa.
 

Karena itu, menurutnya, aspek keselamatan, kesehatan, dan perlindungan peserta tidak boleh diabaikan.
 

Ia mendesak Kementerian Pertahanan mengungkap secara terbuka penyebab meninggalnya para peserta sekaligus memastikan seluruh sistem pelatihan dievaluasi agar tragedi serupa tidak kembali terjadi.
 

"Evaluasi harus dilakukan secara menyeluruh, penyebab kematian harus diungkap secara transparan, dan pemerintah wajib memastikan kejadian seperti ini tidak terulang lagi," pungkasnya.
 

RAJA MEDIA I Parlemenrajamedia

Komentar: