Politik

Info Haji

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Otomotif

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Calon Dewan

Indeks

Belajar Daring Lagi? DPR Langsung Rem: Jangan Korbankan Pendidikan Anak!

Laporan: Halim Dzul
Senin, 23 Maret 2026 | 21:34 WIB
Wakil Ketua Komisi X DPR RI MY Esti Wijayanti
Wakil Ketua Komisi X DPR RI MY Esti Wijayanti

RAJAMEDIA.CO - Jakarta, Legislator — Wacana menghidupkan kembali pembelajaran daring mulai April 2026 langsung menuai penolakan.
 

Alasannya: efisiensi.
 

Tapi bagi DPR, itu bukan solusi.
 

Wakil Ketua Komisi X DPR RI MY Esti Wijayanti tegas menyatakan tidak setuju jika kegiatan belajar-mengajar kembali dilakukan secara online demi penghematan energi atau anggaran.
 

Trauma COVID-19 Belum Hilang
 

Esti mengingatkan, Indonesia sudah punya pengalaman pahit saat pandemi COVID-19. Pembelajaran daring saat itu memang jadi pilihan darurat.
 

Tapi dampaknya masih terasa hingga sekarang.
 

“Pembelajaran daring pernah kita jalankan saat pandemi, dan kita tahu dampaknya tidak sederhana,” ujar Esti, Senin (23/3/2026).
 

Menurutnya, sistem tersebut meninggalkan banyak persoalan serius dalam dunia pendidikan.
 

Learning Loss Jadi Alarm Keras
 

Salah satu dampak paling nyata adalah learning loss. Fenomena ini membuat siswa mengalami penurunan kemampuan belajar, bahkan kehilangan motivasi terhadap sekolah.
 

“Anak-anak jadi malas belajar dan cenderung kehilangan ritme pendidikan,” kata Esti.
 

Tak hanya itu, kemampuan kognitif siswa juga disebut menurun berdasarkan berbagai pemantauan pasca-pandemi.
 

Bukan Cuma Akademik, Mental Anak Juga Terdampak
 

Masalahnya tidak berhenti di nilai pelajaran. Esti menegaskan, pembelajaran daring juga berdampak pada aspek psikologis dan kesehatan fisik anak.
 

Interaksi sosial berkurang. Disiplin melemah. Karakter sulit terbentuk.
 

“Sistem daring sulit menyentuh aspek afektif seperti kepribadian, sikap, dan karakter,” tegasnya.
 

Kendala Teknologi Masih Jadi PR
 

Selain itu, persoalan klasik juga belum tuntas. Mulai dari akses internet, perangkat belajar, hingga kesiapan orang tua dan guru.
 

Semua itu menjadi beban tambahan yang tidak bisa dianggap sepele.
 

“Ini problem yang tidak sederhana,” kata Esti.
 

DPR Minta Pemerintah Cari Jalan Lain
 

Esti meminta pemerintah tidak menjadikan pendidikan sebagai korban kebijakan efisiensi.
 

Menurutnya, masih banyak opsi lain untuk menghadapi tekanan ekonomi global, termasuk potensi kenaikan harga energi.

“Pasti ada langkah alternatif. Pendidikan anak tidak boleh dikorbankan,” ujarnya.
 

Jangan Ulang Kesalahan Lama
 

Pesan DPR jelas: Jangan ulangi kebijakan yang sudah terbukti menyisakan masalah.
 

Efisiensi penting. Tapi masa depan anak bangsa jauh lebih penting. Karena sekali pendidikan terganggu— dampaknya bisa panjang.
 rajamedia

Komentar: