Tafsir Ulang Akuntansi Puasa
RAJAMEDIA.CO - Banyak dari kita, menurut Rasulullah SAW, yang berpuasa tidak lebih hanya mendapat lapar dan haus saja. Tidak ada peningkatan iman serta wawasan keislaman yang semakin baik. Beberapa Ustadz seringkali menyitir Ramadhan adalah bulan ibadah, bulan kesempatan untuk menghapus dosa yang berjubel selama 11 bulan sebelumnya. Bulan bonus pahala yang tak terhingga.
Dan di bulan Ramadhan pula, ada satu malam yang dihadiahkan kepada umat Islam, ampunan dan pahala bagi yang khusyu' bertobat dan beribadah dengan nilai luar biasa, yakni satu malam sama dengan 1.000 bulan atau 30.000 malam atau 83 tahun 4 bulan nilai pahala dan ganjarannya.
Sedekah di bulan Ramadhan pahalanya lebih besar dibandingkan sedekah di luar bulan Ramadhan. Seolah apabila kita buatkan ihtisaban (perhitungan/akuntansi) laporan pahala dan dosa, mengadaptasi laporan laba/rugi dalam konsep akuntansi, maka ibadah di bulan Ramadhan mampu mengkonversi ketidaktaatan di luar Ramadhan. Sehingga posisi neraca kehidupan akhir tahun ba'da Ramadhan surplus dengan pahala. Tak salah memang. Karena cukup dalil untuk membenarkan argumentasi tersebut.
Tapi, saya harus berani untuk mengungkapkan, persepsi yang dibangun tersebut harus dikoreksi. Dampaknya dalam jangka panjang bagi umat tidak sehat. Umat bisa kehilangan orientasi dalam beribadah. Pahala seakan menjadi tujuan utama. Apa pun dilakukan untuk mengakumulasikan pahala, abai terhadap dimensi lain yang lebih substansi dalam beribadah, harmonisasi dan rekayasa sosial misalnya.
Padahal, Ramadhan adalah bulan yang paling efektif untuk membangun dan menata kembali harmonisasi sosial yang sesuai dengan tatanan peradaan Islam. Bahkan, Ramadhan merupakan kesempatan emas untuk melakukan perubahan sosial melalui rekayasa sosial yang dapat dimamfaat melalui integrasi nilai-nilai moral Ramadhan ke dalam kehidupan di luar Ramadhan.
Saya justru memahami Hadist yang mengiming-imingkan pahala dalam setiap perintah ibadah, termasuk dalam bulan Ramadhan, adalah marhalah (tahapan) dalam dakwah Islam. Hal ini dilakukan karena manusia adalah homo economicus yang peka terhadap insentif, baik berbentuk material maupun non-material seperti janji pahala tersebut.
Namun, marhalah ini tidak boleh "berhenti" dalam proses dakwah. Apabila berhenti akan berdampak buruk. Yakni akan membentuk masyarakat Islam dengan karakter utama homo economicus yang hanya peduli dengan insentif material dalam bentuk pahala.
Proses dakwah harus sampai pada mengarahkan umat untuk menjadi homo social, yakni umat yang utama. Umat, di mana kesejahteraan sosial termanifestasikan dalam bentuk peradaban Islam yang harmonis dengan nilai-nilai ke-Tuhan-an dan kemanusian yang paripurna di dalamnya; di mana setiap perintah dan anjuran Allah SWT ditafsirkan secara benar sebagai jalan untuk membangun peradaban diri, keluarga dan masyarakat yang harmonis; dan di mana perintah Tuhan dan etika moral menjadi pemandu dalam hubungan antar anggota masyarakat.
Perintah ibadah seperti puasa tidak lagi dikerjakan karena iming-iming insentif material seperti pahala yang bersifat egoistik. Tetapi ibadah dilakukan atas dasar usaha untuk menggapai "perkenan Tuhan atau ridha Allah SWT." yang berdimensi altruistik (spiritual-sosial).
Ibadah puasa dimaknai sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri untuk menjadi insan yang lebih baik. Selaras dengan insan yang baik tersebut akan terbangun keluarga, masyarakat, bangsa, dan peradaban yang baik pula. Di mana nilai-nilai ke-Tuhan-an eksis sebagai pemandu moral dalam hubungan antar umat seagama dan umat beragama.
Nah, oleh sebab itu nihilisme akuntansi puasa harus dilakukan, dalam arti harus dilakukan tafsir ulang (perhitungan/akuntansi) terhadap ihtisaban puasa. Ihtisaban/akuntansi puasa harus dimaknai tidak sekadar menghitung-hitung pahala yang akan diperoleh. Namun, yang lebih penting dan esensi bagaimana ihtisaban/akuntansi/perhitungan dilakukan sebagai usaha untuk mempersiapkan diri mempersiapkan diri masuk dalam laboratorium pelatihan Ramadhan.
Maka formulasi akuntansi puasa harus berorientasi pada: Pertama, berhitunglah berapa alokasi waktu untuk memaksimalkan ibadah seperti qiyamul lail, tadarus Al-Quran, dengan tetap, bahkan meningkatkan dengan produktivitas rutinitas tugas sehari-hari.
Kedua, berhitunglah lah berapa alokasi dana untuk zakat, infaq dan sedekah yang akan kita maksimalkan selama dan setelah bulan Ramadhan. Bukan, sibuk dengan perhitungan berapa baju baru yang akan kita belanjakan. Ketiga, berhitunglah apakah semua ibadah yang telah dilaksanakan selama bulan Ramadhan mampu mengubah bahkan mentransformasi diri kita menjadi seorang muslim yang lebih baik.
Dengan model ihtisaban/akuntansi seperti ini, maka cita-cita Ramadhan yang setiap tahun pasti akan datang, sebagai laboratorium untuk melahirkan muslim-muslim baru yang mampu melakukan perubahan bagi peradaban Islam yang lebih baik, akan dapat kita capai lebih cepat. Wallahu a'lam bishawwab.
Catatan: Tulisan Wamenhaj Dahnil Anzar Simanjuntak ini diambil dari salah satu bukunya yang berjudul “Menggembirakan Puasa” (2017).![]()
Daerah 2 hari yang lalu
Parlemen | 5 hari yang lalu
Dunia | 5 hari yang lalu
Olahraga | 6 hari yang lalu
Keamanan | 4 hari yang lalu
Politik | 5 hari yang lalu
Info Haji | 5 hari yang lalu
Nasional | 6 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Parlemen | 4 hari yang lalu






