Politik

Info Haji

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Otomotif

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Calon Dewan

Indeks

Sekolah Tak Cukup Pintar, Harus Beradab! Mendikdasmen: Guru Adalah Agen Peradaban

Laporan: Tim Redaksi
Sabtu, 04 April 2026 | 15:07 WIB
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti - Foto: Dok Kemedikdasmen -
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti - Foto: Dok Kemedikdasmen -

RAJAMEDIA.CO — Pekalongan — Pendidikan tak lagi cukup soal nilai dan angka. Pemerintah menegaskan arah baru: sekolah harus jadi tempat membangun karakter, bukan sekadar “pabrik” hafalan.
 

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, menegaskan pendidikan adalah proses membangun peradaban—dan itu dimulai dari ruang kelas.
 

Sekolah Aman dan Nyaman, Bukan Sekadar Slogan
 

Melalui Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026, pemerintah mendorong lahirnya budaya sekolah yang menjamin keamanan fisik, psikologis, hingga sosial.
 

Budaya ini mencakup nilai, sikap, hingga kebiasaan yang membentuk lingkungan belajar yang kondusif—termasuk keamanan digital.
 

“Kata Kuncinya: Memuliakan”
 

Mu’ti menegaskan, inti pendidikan adalah memuliakan manusia.
 

“Guru harus memuliakan murid, murid menghormati guru, dan keduanya memuliakan ilmu,” tegasnya di hadapan ratusan kepala sekolah dan guru.
 

Relasi ini, menurutnya, adalah fondasi utama dalam membangun sekolah bermartabat.
 

Guru Bukan Sekadar Pengajar
 

Peran guru kini dituntut lebih luas. Bukan hanya sebagai pengajar, tapi juga pembimbing dan penjaga nilai.
 

“Guru tidak hanya agent of learning, tapi juga agent of civilization,” ujar Mu’ti.
 

Ia bahkan menegaskan, setiap guru harus berperan sebagai wali yang mendampingi siswa secara akademik, sosial, dan emosional.
 

Hidden Curriculum Jadi Kunci
 

Mu’ti menyoroti pentingnya hidden curriculum—nilai-nilai yang tidak diajarkan secara formal, tapi dibiasakan setiap hari.
 

Disiplin, sopan santun, saling menghargai—semua dibangun lewat keteladanan, bukan ceramah.
 

“Banyak hal penting dalam pendidikan justru tidak diajarkan, tapi dibiasakan,” katanya.
 

Disiplin Tanpa Kekerasan
 

Dalam membangun karakter, Mu’ti mengingatkan: tak boleh ada kekerasan. Pendekatan disiplin harus mendidik, bukan menghukum.
 

“Bukan dengan hukuman fisik, tapi dengan cara yang membuat siswa sadar dan berubah,” tegasnya.
 

Deep Learning: Belajar Harus Bermakna
 

Konsep pembelajaran juga diarahkan ke pendekatan deep learning: mindful, meaningful, dan joyful.
 

Tujuannya jelas—siswa tak hanya tahu, tapi memahami dan terlibat aktif dalam proses belajar.
 

Dialog, Bukan Konfrontasi
 

Dalam menyelesaikan masalah di sekolah, Mu’ti mendorong pendekatan dialog.
 

Komunikasi antara sekolah dan orang tua harus dijaga agar solusi yang dihasilkan tidak merusak hubungan.
 

Sekolah hebat bukan yang hanya melahirkan siswa pintar, tapi yang membentuk manusia beradab. Di situlah masa depan bangsa ditentukan—bukan di angka rapor, tapi di karakter yang tertanam.rajamedia

Komentar: