Politik

Info Haji

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Otomotif

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Calon Dewan

Indeks

Pileg Tenggelam oleh Pilpres, Said Abdullah Dukung Pemilu Dipisah

Laporan: Firman
Kamis, 24 September 2026 | 18:36 WIB
Ketua DPP PDI Perjuangan Said Abdullah mendukung wacana pemisahan Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) - Ilustrasi RMN-
Ketua DPP PDI Perjuangan Said Abdullah mendukung wacana pemisahan Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) - Ilustrasi RMN-

RAJAMEDIA.CO – Jakarta – Ketua DPP PDI Perjuangan Said Abdullah mendukung wacana pemisahan Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres). Menurut Said, pengalaman pemilu serentak menunjukkan perhatian masyarakat cenderung lebih besar tertuju pada Pilpres sehingga kontestasi Pileg kurang mendapat perhatian.
 

Said menyampaikan pandangan tersebut di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (24/9/2026). Ia menilai pemisahan jadwal Pileg dan Pilpres layak dikaji dalam pembahasan perubahan aturan pemilu. 
 

Pileg Dinilai Tenggelam oleh Pilpres
 

Said mengatakan pelaksanaan Pileg dan Pilpres secara bersamaan membuat perhatian publik lebih banyak terserap pada kontestasi calon presiden.
 

“Karena apa? Memang disadari dalam setiap kontestasi pilpres, pileg itu hampir tenggelam. Yang dominan selalu pilpres. Yang dibaca rakyat selalu pilpres,” ujar Said.
 

Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi bahan evaluasi dalam merancang mekanisme pemilu berikutnya.
 

Coattail Effect Dinilai Tak Signifikan
 

Said juga menyoroti coattail effect atau efek ekor jas yang selama ini kerap dikaitkan dengan pemilu serentak.
 

Ia menilai kemenangan atau popularitas pasangan calon presiden tidak otomatis memberikan dampak yang signifikan terhadap partai politik dalam Pileg.


“Padahal coattail effect-nya juga nggak ada. Kecuali jas presiden aja calonnya, yang pakai jas. Ke partai politik hampir tidak ada,” ujarnya.
 

Agar Pemilih Lebih Mengenal Caleg
 

Said mengatakan pemisahan jadwal pemilu juga dapat memberikan ruang lebih besar bagi masyarakat untuk mengenali calon anggota legislatif.
 

Menurutnya, ketika Pileg dan Pilpres digelar bersamaan, perhatian publik dan energi politik lebih banyak terpusat pada kontestasi Pilpres.


“Supaya rakyat benar-benar tahu calonnya. Jangan milih kucing dalam karung. Selama ini kesulitan betul kami. Karena, karena hampir-hampir caleg, calon legislatif itu setengah mati semuanya karena semua pikiran, tenaga, pikiran semuanya kepada pilpres,” kata Said.
 

Ia menilai pengaturan jadwal yang berbeda dapat membuat calon legislatif memperoleh ruang kampanye dan perhatian publik yang lebih proporsional.
 

Pileg Lebih Dulu, Pilpres Tiga Bulan Kemudian
 

Said mendukung skema Pileg digelar terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan Pilpres. Ia menyebut jeda sekitar tiga bulan sebagai salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan.


“Oleh karenanya kemudian muncul, berkembang pikiran, sudahlah pileg sendiri, setelah pileg baru pilpres. Dasarnya pilpres dari pileg yang baru dilaksanakan dalam jangka waktu 3 bulan tadi,” katanya.
 

Dalam skema tersebut, hasil Pileg yang baru dilaksanakan dapat menjadi salah satu dasar dalam menentukan pencalonan pada Pilpres berikutnya.
 

Usulan Masih Perlu Dikaji
 

Meski menyatakan dukungan terhadap gagasan pemisahan tersebut, Said menegaskan mekanismenya masih perlu dibahas dan dikaji secara matang.
 

Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia juga mengusulkan agar Pileg, Pilpres, dan Pilkada tidak diselenggarakan secara bersamaan. Usulan tersebut kini menjadi bagian dari pembahasan mengenai desain pemilu dan revisi UU Pemilu. 
 

Pembahasan mengenai perubahan sistem pemilu sendiri masih berada pada tahap awal. Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad sebelumnya menyebut belum ada kesimpulan mengenai sistem atau usulan tertentu yang akan diakomodasi dalam revisi UU Pemilu. 
 

RAJA MEDIA – Cepat, Tegas, Terpercaya.rajamedia

Komentar: