Politik

Info Haji

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Otomotif

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Calon Dewan

Indeks

Ketum PP Muhammadiyah: Masjid Tempat Membangun Peradaban Bangsa

Laporan: Tim Redaksi
Jumat, 19 Januari 2024 | 09:11 WIB
Ketum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir. (Foto: Repro)
Ketum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir. (Foto: Repro)

RAJAMEDIA.C0 - Lamongan - Masjid tidak sekadar sebagai tempat ibadah khusus, melainkan juga sebagai tempat membangun peradaban bangsa.

Begitu disampaikan  Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir saat peresmian Masjid Asy Syifa RS Muhammadiyah Lamongan, Rabu (17/1).

Menurut Haedar, Masjid sebagai tempat ibadah dan membangun peradaban harus dijaga keseimbangannya.

"Masjid tidak boleh dengan serta merta anti dengan kebudayaan. Kebudayaan yang dimaksud adalah sistem pengetahuan kolektif yang dasar orientasi nilai Islam," ujar Haedar.

Masjid Asy Syifa RS Muhammadiyah Lamongan. ---

Lebih lanjut kata Haedar, kebudayaan yang ada di kehidupan umat Islam juga berkaitan dengan kegiatan-kegiatan keagamaan baik itu ibadah khusus dan umum. Misalnya budaya yang melekat di orang yang melaksanakan ibadah salat adalah model busananya.

"Peci kita ini kebudayaan, mau pakai atau tidak, tidak urusan. Sebenarnya bapak-ibu sekalian mau salat pakai peci atau tidak, itu tidak masalah. Bahkan mau khutbah juga tidak apa-apa,” ungkap Haedar.

"Akan tetapi, pengetahuan kolektif kita dan perasaan bersama kita, bahwa itu melekat dengan keislaman itulah kebudayaan,” imbuhnya.

Guru Besar Sosiologi ini menjelaskan, jika kebudayaan tersebut ingin ‘naik kelas’ maka kebudayaan tersebut harus menjadi peradaban. Kebudayaan yang baik untuk menjadi suatu peradaban adalah yang memiliki etika utama.

Kata Haderar, perintah diutusnya Rasulullah Muhammad SAW di muka bumi, bahwa beliau ditugaskan untuk memperbaiki akhlak – etika umat manusia.

"Nabi hadir untuk menciptakan peradaban tinggi, supaya kebudayaan naik,” kata Haedar.

"Maka keberagamaan umat Islam memiliki konsekuensi untuk lebih meluas, supaya dapat memberi pencerahan bagi seluruh alam," sambung Haedar.

Dalam diksi Muhammadiyah, kata Haedar, Islam adalah agama yang mencerahkan kehidupan.

"Iman dan takwa yang dimiliki oleh warga Muhammadiyah tidak dikotomis – memisahkan antara kehidupan dunia dan akhirat. Muhammadiyah memandang dunia adalah tempat berjuang dan mengumpulkan bekal untuk kehidupan di akhirat kelak," demikian tutup Haedar melansir laman muhammadiyah.or.id.rajamedia

Komentar: