CATATAN REDAKSI: Ketika Klub Diminta Bertanggung Jawab atas Ranking
RAJAMEDIA.CO - Jakarta - Pernyataan Direktur Utama I.League, Ferry Paulus, yang mengaitkan kegagalan Persib Bandung dan Dewa United di kompetisi Asia dengan penurunan peringkat Indonesia menimbulkan pertanyaan. Bukan semata soal siapa yang gagal, melainkan bagaimana sepak bola Indonesia membagi tanggung jawab.
Persib memilih tidak meladeni polemik. Sikap itu patut dihargai. Namun, data tetap perlu ditempatkan di atas pernyataan.
Persib dan Angka yang Berbicara
Berdasarkan data koefisien yang beredar, Persib justru menyumbang 9,73 poin atau sekitar 35,7 persen terhadap koefisien Indonesia. Angka itu menjadikan Persib salah satu penyumbang terbesar.

Artinya, ketika sebuah klub disebut ikut menyebabkan ranking merosot, publik berhak melihat keseluruhan angka. Perjalanan Persib di kompetisi Asia bukan hanya tentang kegagalan mencapai fase berikutnya, tetapi juga tentang poin yang telah dikumpulkan.
Ranking kompetisi pun bukan hasil pertandingan satu atau dua klub semata. Ia merupakan akumulasi performa wakil sebuah negara di kompetisi Asia.
Ada Persoalan yang Lebih Besar
Di sinilah pernyataan operator liga semestinya dibaca lebih kritis.
Klub Indonesia membutuhkan hasil bagus di Asia untuk mengangkat koefisien. Tetapi klub yang bermain di Asia juga menghadapi kalender pertandingan domestik yang padat.
Jika penyesuaian jadwal atau kelonggaran kompetisi domestik dianggap mengganggu kepentingan liga, maka muncul pertanyaan sederhana: siapa sebenarnya yang sedang diperjuangkan—kepentingan klub, kepentingan operator, atau kepentingan sepak bola Indonesia?
Jangan Bebankan Semuanya kepada Klub
Klub memang harus bertanggung jawab atas performanya. Kekalahan tetap kekalahan. Tetapi operator juga memiliki tanggung jawab menciptakan kondisi agar wakil Indonesia mampu bersaing.
Karena itu, kurang tepat jika penurunan ranking semata-mata diletakkan di pundak klub.
Yang dibutuhkan bukan saling menunjuk, melainkan evaluasi: jadwal, regulasi, kualitas kompetisi, dukungan terhadap klub, hingga strategi meningkatkan koefisien Indonesia di Asia.
Ranking Bukan Sekadar Angka
Peringkat Indonesia di Asia menentukan lebih dari sekadar gengsi. Posisi tersebut berhubungan dengan peluang dan jumlah wakil Indonesia di kompetisi Asia pada masa mendatang.
Maka, perdebatan tentang ranking seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki ekosistem sepak bola nasional.
Klub tidak boleh dibiarkan berjuang sendiri. Operator tidak boleh sekadar menjadi penyelenggara pertandingan. Dan federasi tidak cukup hanya mencatat hasil.
Jika targetnya Indonesia naik kelas di Asia, semua pihak harus ikut bermain. Bukan hanya ketika menang, tetapi juga ketika gagal.
RAJA MEDIA – Cepat, Tegas, Terpercaya.![]()
Olahraga | 5 hari yang lalu
Politik | 5 hari yang lalu
Parlemen | 4 hari yang lalu
Nasional | 1 minggu yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Olahraga | 6 hari yang lalu
Keamanan | 6 hari yang lalu
Politik | 6 hari yang lalu
Daerah | 5 hari yang lalu




