Ketua LIB Salahkan Persib-Dewa United, Ranking Indonesia Turun Jadi Sorotan
RAJAMEDIA.CO — Jakarta — Pernyataan Ketua Umum PT Liga Indonesia Baru (LIB) Ferry Paulus menjelang bergulirnya BRI Super League 2026/27 menuai perhatian. Ferry menyinggung kegagalan Persib Bandung dan Dewa United di kompetisi Asia sebagai salah satu faktor yang membuat posisi Indonesia dalam pemeringkatan AFC menurun.
Pernyataan tersebut kemudian menjadi sorotan karena menyangkut dua klub yang menjadi wakil Indonesia di kompetisi Asia.
Di satu sisi, performa klub memang memiliki pengaruh terhadap perolehan poin Indonesia dalam ranking AFC. Namun di sisi lain, pemeringkatan AFC tidak ditentukan oleh performa satu atau dua klub saja.
Persib dan Dewa United Disorot
Ferry Paulus mengaitkan turunnya posisi Indonesia dengan kiprah Persib Bandung dan Dewa United di kompetisi Asia.
Persib tampil di AFC Champions League Two, sedangkan Dewa United berlaga di AFC Challenge League.
Keduanya diharapkan mampu mengumpulkan poin bagi Indonesia melalui hasil pertandingan di kompetisi antarklub Asia.
Namun perjalanan kedua klub tersebut tidak berjalan sesuai harapan.
Persib gagal melangkah lebih jauh, sementara Dewa United juga tidak mampu memberikan tambahan poin yang cukup untuk mempertahankan posisi Indonesia pada level sebelumnya.
Kondisi tersebut menjadi bagian dari dinamika perhitungan koefisien AFC.
Indonesia Sempat Naik ke Peringkat 18 Asia
Sebelumnya, Indonesia sempat berada di peringkat ke-18 Asia dengan koleksi sekitar 26,299 poin.
Kenaikan tersebut tidak terlepas dari kontribusi klub Indonesia dalam kompetisi AFC.
Namun posisi tersebut kemudian turun.
Data terbaru menunjukkan Indonesia berada di peringkat ke-20 Asia dengan sekitar 25,759 poin.
Di kawasan ASEAN, Indonesia juga belum menjadi yang teratas.
Indonesia berada di peringkat keenam ASEAN, di bawah Thailand, Malaysia, Vietnam, Singapura, dan Kamboja.
Ranking AFC Bukan Hanya Persib dan Dewa United
Di sinilah pernyataan Ferry perlu dibaca secara lebih utuh.
Performa Persib dan Dewa United memang memiliki kontribusi terhadap ranking Indonesia. Setiap hasil pertandingan klub Indonesia di kompetisi AFC dapat memengaruhi perolehan poin asosiasi.
Tetapi ranking AFC merupakan hasil akumulasi performa klub-klub dari masing-masing asosiasi dalam kompetisi AFC.
Karena itu, penurunan posisi Indonesia tidak dapat semata-mata dibebankan kepada Persib dan Dewa United.
Ada faktor lain yang ikut menentukan, termasuk performa seluruh klub Indonesia yang tampil di kompetisi Asia serta hasil yang diperoleh klub-klub dari negara ASEAN lainnya.
Dengan demikian, menyebut Persib dan Dewa United sebagai bagian dari penyebab penurunan ranking memiliki dasar, tetapi menyederhanakan persoalan hanya pada kedua klub tersebut tentu tidak menggambarkan keseluruhan sistem ranking AFC.
Klaim “Nomor Satu ASEAN” Juga Dipertanyakan
Sorotan terhadap Ferry Paulus semakin menarik karena sebelumnya ia menyebut Liga Indonesia berada di posisi nomor satu ASEAN.
Namun klaim tersebut harus dibedakan dengan ranking AFC.
Jika yang dimaksud adalah kinerja bisnis atau komersial liga, pernyataan tersebut berada dalam konteks yang berbeda.
Tetapi apabila dipahami sebagai ranking prestasi sepak bola klub ASEAN, data AFC menunjukkan kondisi yang berbeda.
Indonesia saat ini masih berada di posisi keenam ASEAN dan peringkat ke-20 Asia.
Perbedaan indikator inilah yang kemudian memunculkan perdebatan di kalangan publik sepak bola.
Bukan Sekadar Soal Ranking
Perdebatan tersebut sesungguhnya membawa persoalan yang lebih besar.
Liga Indonesia memang membutuhkan penguatan dari sisi bisnis, komersial, tata kelola, dan daya tarik kompetisi.
Tetapi pada saat yang sama, kekuatan finansial liga harus berbanding lurus dengan prestasi klub di Asia.
Sebab semakin tinggi prestasi klub Indonesia di kompetisi AFC, semakin besar pula peluang Indonesia mengumpulkan poin dan memperbaiki posisi dalam pemeringkatan.
Dengan kata lain, bisnis dan prestasi tidak semestinya dipertentangkan. Keduanya harus berjalan beriringan.
Publik Menunggu Pembuktian di Lapangan
Menjelang BRI Super League 2026/27, pernyataan Ferry Paulus menjadi momentum untuk melihat sejauh mana sepak bola Indonesia mampu mengubah kekuatan komersial menjadi prestasi di lapangan.
Persib, Dewa United, dan klub-klub Indonesia lainnya tentu memiliki tanggung jawab untuk memberikan performa terbaik ketika tampil di Asia.
Namun sebagai operator kompetisi, LIB juga memiliki pekerjaan besar untuk memastikan kualitas liga terus meningkat sehingga klub-klub Indonesia memiliki fondasi yang lebih kuat ketika bersaing di level internasional.
Pada akhirnya, kontroversi pernyataan boleh bergulir.
Tetapi ranking AFC akan tetap berbicara melalui angka, sementara prestasi klub akan berbicara melalui hasil pertandingan.
RAJA MEDIA – Cepat, Tegas, Terpercaya.![]()
Olahraga | 5 hari yang lalu
Politik | 4 hari yang lalu
Parlemen | 4 hari yang lalu
Nasional | 1 minggu yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
Olahraga | 6 hari yang lalu
Keamanan | 6 hari yang lalu
Politik | 5 hari yang lalu
Daerah | 5 hari yang lalu


