BMKG Uji Dry Ice untuk Atasi Kabut Asap Karhutla
RAJAMEDIA.CO — Jakarta — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menguji penggunaan dry ice atau karbon dioksida padat untuk membantu mengurangi kepekatan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Teknologi ini digunakan untuk membantu mengatasi lapisan inversi atmosfer yang menyebabkan asap terperangkap di dekat permukaan bumi.
Metode tersebut diterapkan untuk membantu penanganan kabut asap di Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah. Dalam beberapa waktu terakhir, kabut asap di kedua wilayah tersebut dilaporkan mengganggu aktivitas penerbangan hingga menyebabkan operasional bandara lumpuh.
Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, mengatakan penggunaan dry ice berawal dari arahan Presiden Prabowo Subianto.
“Tujuannya untuk mengurangi lapisan inversi. Karena di Provinsi Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah dalam beberapa waktu terakhir, bandaranya lumpuh,” kata Budi dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Minggu (25/10/2026).
Lapisan Inversi Bikin Asap Terperangkap
Budi menjelaskan, lapisan inversi merupakan kondisi atmosfer yang menghambat pergerakan udara secara vertikal. Kondisi tersebut membuat asap kebakaran sulit menyebar ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi sehingga terkonsentrasi di dekat permukaan bumi.
Akibatnya, kepekatan kabut asap meningkat dan dapat mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk transportasi udara.
Untuk membantu mengatasi kondisi tersebut, BMKG menggunakan dry ice guna mengganggu lapisan inversi. Dengan harapan lapisan tersebut dapat teratasi, asap yang sebelumnya terperangkap di permukaan bisa terdispersi ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi.
Langkah ini diharapkan dapat mengurangi kepekatan kabut asap di permukaan dan membantu memperbaiki kondisi atmosfer.
Dry Ice Bukan untuk Membuat Hujan
BMKG menegaskan bahwa penggunaan dry ice dalam penanganan kabut asap berbeda dari penyemaian awan untuk menghasilkan hujan.
“Menggunakan dry ice ini bukan bertujuan untuk menjatuhkan awan hujan,” ujar Budi.
Dalam Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), BMKG menggunakan natrium klorida (NaCl) atau garam sebagai bahan semai untuk mendukung pembentukan hujan apabila kondisi awan memungkinkan.
Sementara itu, dry ice digunakan untuk membantu mengatasi lapisan inversi yang menghambat pergerakan udara dan proses pertumbuhan awan.
Dengan demikian, kedua metode tersebut memiliki tujuan berbeda, meskipun sama-sama menjadi bagian dari upaya penanganan dampak kondisi atmosfer.
BMKG Harapkan Asap Terdispersi ke Lapisan Atas
Menurut Budi, upaya mengatasi lapisan inversi diharapkan dapat membantu asap yang sebelumnya tertahan di dekat permukaan bumi menyebar ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi.
“Dengan begitu harapannya asap yang sebelumnya tertahan di lapisan permukaan karena terkungkung lapisan inversi ini dia akan terdispersi ke atas. Sehingga kepekatan di bawah berkurang, radiasi sinar matahari juga bisa masuk, sehingga proses pertumbuhan awan hujan juga bisa menjadi semakin efektif,” kata Budi.
Berkurangnya kepekatan asap di permukaan diharapkan dapat meningkatkan masuknya radiasi matahari. Kondisi tersebut juga diharapkan mendukung pertumbuhan awan hujan apabila faktor cuaca lainnya memungkinkan.
Meski demikian, keberhasilan metode ini tetap bergantung pada kondisi atmosfer dan perkembangan cuaca di wilayah terdampak.
Terinspirasi dari Thailand, Efektivitas Masih Dievaluasi
Budi mengungkapkan, penggunaan dry ice untuk membantu mengatasi polusi udara mengacu pada pengalaman Thailand yang telah menerapkan metode serupa.
“Dry ice ini sebetulnya kami mendapatkan referensi dari negara tetangga, Thailand. Mereka menggunakan dry ice ini untuk mengatasi masalah polusi,” ujarnya.
Namun, penerapan metode tersebut di Indonesia masih berada dalam tahap uji coba. BMKG terus mengevaluasi efektivitasnya untuk mengetahui sejauh mana teknologi tersebut dapat membantu mengurangi kepekatan kabut asap.
Karena itu, penggunaan dry ice belum dapat dipandang sebagai solusi tunggal untuk mengatasi persoalan karhutla dan polusi asap.
Pemadaman Api Tetap Menjadi Kunci
Budi menegaskan, penanganan kabut asap tidak hanya bergantung pada teknologi modifikasi cuaca. Kondisi cuaca dan upaya pemadaman sumber api di lapangan juga menentukan keberhasilan penanganan karhutla.
Hujan dengan intensitas yang memadai tetap diperlukan untuk membantu memadamkan kebakaran, terutama pada lahan gambut yang apinya dapat bertahan di bawah permukaan tanah.
Artinya, upaya mengurangi kepekatan asap melalui penanganan lapisan inversi perlu berjalan beriringan dengan pemadaman api dan langkah penanganan karhutla lainnya.
Penggunaan dry ice kini menjadi salah satu metode yang diuji BMKG untuk membantu menghadapi dampak kabut asap. Efektivitasnya masih perlu dibuktikan melalui evaluasi, sementara penanganan sumber kebakaran tetap menjadi faktor penting untuk mencegah asap terus terbentuk.
RAJAMEDIA.CO — Cepat, Tegas, Terpercaya.![]()
Olahraga 5 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Olahraga | 4 hari yang lalu
Olahraga | 4 hari yang lalu
Hukum | 6 hari yang lalu
Hukum | 4 hari yang lalu
Hukum | 6 hari yang lalu
Politik | 4 hari yang lalu
Politik | 1 hari yang lalu
Politik | 1 minggu yang lalu