Politik

Info Haji

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Otomotif

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Calon Dewan

Indeks

BMKG Peringatkan Gelombang hingga 4 Meter, Nelayan Diminta Waspada

Laporan: Tim Redaksi
Kamis, 15 Oktober 2026 | 14:39 WIB
Foto ilustrasi Raja Media Network - RMN -
Foto ilustrasi Raja Media Network - RMN -

RAJAMEDIA.CO – Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini potensi gelombang tinggi di sejumlah perairan Indonesia pada 15–18 Oktober 2026. Ketinggian gelombang diperkirakan mencapai 4 meter, terutama di sejumlah kawasan Samudra Hindia yang berbatasan dengan Sumatera, Jawa, hingga Bali.
 

Peningkatan gelombang laut ini dipengaruhi pola pergerakan angin di wilayah utara dan selatan ekuator. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu aktivitas pelayaran, khususnya nelayan dan pengguna transportasi laut yang melintasi kawasan rawan.
 

Direktur Meteorologi Maritim BMKG, Agie Wandala, mengimbau masyarakat untuk memperhatikan kondisi cuaca maritim sebelum melakukan aktivitas di laut.
 

Gelombang hingga 4 Meter Ancam Perairan Selatan
 

Agie menjelaskan, gelombang setinggi 2,5 hingga 4 meter berpeluang terjadi di Samudra Hindia sebelah barat Kepulauan Mentawai, Bengkulu, dan Lampung.
 

Potensi serupa juga diperkirakan muncul di Samudra Hindia selatan Banten, Jawa Barat, hingga Bali.
 

"Gelombang setinggi 2,5 hingga 4 meter berpeluang muncul di Samudra Hindia sebelah barat Kepulauan Mentawai, Bengkulu, dan Lampung. Potensi serupa juga diperkirakan terjadi di Samudra Hindia selatan Banten, Jawa Barat, hingga Bali," kata Agie dalam keterangan pers di Jakarta, Kamis (15/10/2026).
 

Wilayah tersebut perlu mendapat perhatian khusus karena diperkirakan mengalami gelombang tertinggi selama periode peringatan dini.
 

Masyarakat yang beraktivitas di laut diimbau mempertimbangkan kondisi cuaca dan gelombang sebelum berlayar.
 

Sejumlah Laut Berpotensi Dilanda Gelombang 1,25–2,5 Meter
 

Selain gelombang tinggi di Samudra Hindia, BMKG memperkirakan gelombang setinggi 1,25 hingga 2,5 meter terjadi di sejumlah perairan lainnya.
 

Wilayah yang berpotensi terdampak meliputi:
 

1. Selat Malaka bagian utara. 

2. Sebagian besar perairan Samudra Hindia barat dan selatan Indonesia. 

3. Laut Jawa. 

4. Laut Bali. 

5. Laut Sumbawa. 

6. Sebagian Selat Makassar. 

7. Laut Maluku. 

8. Samudra Pasifik bagian utara. 

9. Laut Arafuru. 
 

Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi perjalanan kapal dan aktivitas nelayan. Karena itu, operator pelayaran dan masyarakat pesisir perlu meningkatkan kewaspadaan selama periode peringatan.
 

Kecepatan Angin Capai 25 Knot
 

Menurut Agie, pola angin menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi dinamika gelombang di perairan Indonesia.
 

Di wilayah utara ekuator, angin umumnya bertiup dari tenggara hingga barat daya dengan kecepatan 6–20 knot. Sementara itu, di selatan ekuator, angin bertiup dari timur hingga tenggara dengan kecepatan 8–25 knot.
 

"Pola angin di utara ekuator Indonesia umumnya bertiup dari tenggara hingga barat daya dengan kecepatan enam sampai 20 knot. Sedangkan, di selatan ekuator bertiup dari timur hingga tenggara dengan kecepatan delapan hingga 25 knot," ujar Agie.
 

Berdasarkan pemantauan BMKG, kecepatan angin tertinggi teridentifikasi di Samudra Hindia barat Lampung dan Samudra Hindia selatan Banten.
 

Angin kencang juga terpantau di kawasan Laut Arafuru. Kondisi ini membuat aktivitas pelayaran di wilayah tersebut perlu dilakukan dengan memperhatikan perkembangan cuaca terkini.
 

Nelayan, Kapal Tongkang, dan Feri Diminta Waspada
 

BMKG mengingatkan bahwa peningkatan tinggi gelombang dapat menimbulkan risiko bagi kapal, bergantung pada jenis dan karakteristiknya.
 

Berikut ambang kondisi yang perlu diwaspadai berdasarkan keterangan BMKG:
 

1. Perahu nelayan: kecepatan angin di atas 15 knot dan tinggi gelombang mencapai 1,25 meter. 

2. Kapal tongkang: kecepatan angin di atas 16 knot dan tinggi gelombang mencapai 1,5 meter. 

3. Kapal feri: kecepatan angin mulai 21 knot dan tinggi gelombang mencapai 2,5 meter. 
 

Ambang tersebut menjadi pengingat bagi operator kapal dan nelayan agar tidak mengabaikan kondisi cuaca sebelum berangkat.
 

Keputusan pelayaran perlu mempertimbangkan kecepatan angin, tinggi gelombang, serta kondisi aktual di lokasi keberangkatan dan jalur pelayaran.
 

Masyarakat Pesisir Diminta Tingkatkan Kewaspadaan
 

Peringatan BMKG tidak hanya ditujukan kepada pelaku pelayaran, tetapi juga masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di kawasan pesisir.
 

Perubahan kondisi angin dan gelombang dapat memengaruhi keselamatan kegiatan di sekitar pantai maupun perairan terbuka.
 

"Warga yang tinggal dan beraktivitas di kawasan pesisir sekitar area yang berpeluang terdampak juga diminta untuk senantiasa waspada terhadap dinamika cuaca maritim tersebut," ujar Agie.
 

BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca maritim dan menyesuaikan aktivitas dengan kondisi di lapangan.
 

Kewaspadaan dan kepatuhan terhadap informasi cuaca menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko kecelakaan laut selama periode peringatan dini 15–18 Oktober 2026.
 

RAJAMEDIA.CO – Cepat, Tegas, Terpercaya.rajamedia

Komentar: