Politik

Info Haji

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Otomotif

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Calon Dewan

Indeks

53.971 Rumah Rusak Akibat Gempa NTT, BNPB Masih Verifikasi Data

Laporan: Firman
Minggu, 23 Agustus 2026 | 15:43 WIB
Foto ilustrasi Raja Media Network - RMN -
Foto ilustrasi Raja Media Network - RMN -

RAJAMEDIA.CO — Nusa Tenggara Timur — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 53.971 rumah mengalami kerusakan akibat gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026).
 

Pendataan kerusakan masih terus dilakukan di tujuh kabupaten terdampak. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kebutuhan masyarakat dapat diidentifikasi secara cepat dan akurat sekaligus menjadi dasar penentuan bantuan dan penanganan lanjutan.
 

Pendataan Berjalan Bersamaan dengan Tanggap Darurat
 

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan proses pendataan dilakukan bersamaan dengan penanganan fase tanggap darurat.
 

“Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kebutuhan masyarakat terdampak dapat diidentifikasi secara cepat dan akurat, sekaligus menjadi dasar dalam menentukan dukungan penanganan pada tahapan berikutnya,” kata Berton melalui keterangan resmi, Minggu (23/8/2026).
 

Berdasarkan data sementara per Sabtu (22/8/2026), dari 53.971 rumah rusak, sebanyak 19.006 unit rusak berat, 11.777 rusak sedang, dan 23.188 rusak ringan.
 

Manggarai Timur Paling Banyak Terdampak
 

Kerusakan rumah tersebar di tujuh kabupaten. Manggarai Timur menjadi wilayah dengan jumlah rumah rusak terbanyak, yakni 17.039 unit.
 

Rinciannya, 6.713 rumah rusak berat, 4.496 rusak sedang, dan 5.830 rusak ringan.
 

Disusul Manggarai Barat dengan 9.402 rumah rusak, terdiri atas 3.334 rusak berat, 1.438 rusak sedang, dan 4.630 rusak ringan.
 

Kemudian Ngada mencatat 8.129 rumah rusak, dengan 1.973 rusak berat, 1.678 rusak sedang, dan 4.478 rusak ringan.
 

Sementara Manggarai mencatat 7.045 rumah rusak, terdiri atas 3.582 rusak berat, 2.113 rusak sedang, dan 1.350 rusak ringan.
 

Berikutnya, Nagekeo mencatat 4.829 rumah rusak, dengan 1.702 rusak berat, 560 rusak sedang, dan 2.567 rusak ringan.
 

Ende tercatat memiliki 3.953 rumah rusak, terdiri atas 763 rusak berat, 870 rusak sedang, dan 2.320 rusak ringan.
 

Adapun Sikka mencatat 3.574 rumah rusak, dengan rincian 939 rusak berat, 622 rusak sedang, dan 2.013 rusak ringan.
 

BNPB Tegaskan Data Masih Sementara
 

Berton menegaskan angka tersebut masih bersifat sementara karena harus melalui proses verifikasi dan validasi di lapangan.
 

“Proses tersebut penting untuk memastikan setiap data kerusakan dapat dipertanggungjawabkan dan sesuai dengan kondisi faktual di lapangan,” tegasnya.
 

BNPB juga telah memiliki data sementara by name by address (BNBA) hingga tingkat desa di enam kabupaten, yakni Manggarai Barat, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, dan Sikka.
 

Sementara pendataan di Kabupaten Manggarai masih berlangsung dan ditargetkan selesai dalam satu hingga dua hari.
 

Verifikasi Jadi Kunci Penyaluran Bantuan
 

Khusus di Nagekeo, proses verifikasi telah dilakukan selama dua hari oleh pemerintah daerah menggunakan instrumen pendataan BNPB.
 

Apabila hasil verifikasi dinyatakan valid, data tersebut dapat ditetapkan melalui keputusan kepala daerah. Namun, jika hasil sampling BNPB menunjukkan data belum sesuai, verifikasi ulang akan dilakukan.
 

Proses tersebut menjadi penting agar bantuan pemerintah benar-benar berdasarkan kondisi faktual masyarakat terdampak.
 

Rumah Rusak Berat Jadi Dasar Huntara
 

Berton menjelaskan pendataan rumah rusak tetap dilakukan secara simultan dengan penanganan darurat. Data rumah yang masuk kategori rusak berat nantinya menjadi salah satu dasar untuk menentukan kebutuhan hunian sementara (huntara) dan dana tunggu hunian (DTH).
 

“Penanganan darurat tetap menjadi prioritas untuk memastikan keselamatan dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, sementara pendataan kerusakan berjalan secara simultan sebagai bagian dari upaya menyiapkan proses pemulihan yang lebih cepat, tepat sasaran, dan akuntabel,” pungkas Berton.
 

BNPB memastikan penanganan darurat dan pendataan kerusakan terus berjalan beriringan agar proses pemulihan masyarakat terdampak gempa NTT dapat dilakukan secara cepat, tepat sasaran, dan dapat dipertanggungjawabkan.
 

RAJA MEDIA – Cepat, Tegas, Terpercaya.rajamedia

Komentar: