Jemuran Bambu Jadi Panggung Tenun, TUMAN Gelar Kisah Wastra Nusa Cendana
RAJAMEDIA.CO — Tangsel — Tak ada lampu pameran yang gemerlap. Tak ada etalase kaca atau tata ruang galeri yang formal. Di Warung TUMAN, BSD, Tangerang Selatan, kain-kain tenun justru dibentangkan dan digantung di jemuran bambu, di antara pepohonan.
Suasana sederhana itu menjadi cara Nury Sybli dan Nanin Upiyanti memperkenalkan kekayaan wastra Nusantara kepada publik melalui TUMAN Gelaran Tenun, Sabtu (15/8/2026).
Cara tersebut sengaja dipilih untuk membawa pengunjung lebih dekat dengan suasana asal kain-kain tersebut: kampung, alam, dan kehidupan masyarakat yang melahirkannya.

“Kami ingin mengajak pengunjung mengenal kain secara dekat, sebagaimana orang desa melihat kain. Bukan hanya menikmati keindahannya, tetapi juga membaca motif dan cerita di balik setiap tenun,” ujar Nury Sybli, pegiat wastra.
Bukan Sekadar Kain yang Dipajang
Gelaran ini membawa pengunjung menjelajahi kekayaan tenun dari berbagai wilayah Nusa Tenggara Timur, mulai dari Flores, Sumba, Sabu, Alor, Rote, hingga Timor Tengah Selatan dan Timor Tengah Utara.
Namun, yang ditawarkan bukan sekadar keindahan warna dan motif.
Di antara lembaran kain yang dibentangkan, terdapat tenun yang dahulu digunakan kalangan bangsawan, kain untuk ritual adat, hingga kain yang hadir dalam prosesi meminang perempuan.
Setiap kain memiliki fungsi dan kedudukan berbeda dalam kehidupan masyarakat.
Futus Amanuban, Kain yang Menyimpan Kekuasaan
Salah satu kain yang mencuri perhatian adalah Futus Amanuban, kain masyarakat adat Amanuban dengan motif belah ketupat besar berkait.

Bagi masyarakat setempat, kain tersebut bukan sekadar sandang. Motif dan penggunaannya berkaitan dengan status, kehormatan, kewibawaan, ritual, hingga ingatan leluhur.
“Kain ini bukan sekadar sandang. Ia merekam status, kehormatan, kekuasaan, ritual, dan ingatan leluhur dalam selembar tenun,” kata Nury.
Berdasarkan cerita yang diwariskan, Futus Amanuban pernah digunakan untuk membungkus jenazah raja di wilayah Amanatun Selatan, Timor Tengah Selatan.
Ada pula kain-kain tertentu yang dibuat khusus untuk keperluan meminang anak gadis maupun digunakan dalam ritual adat.
Artinya, satu lembar tenun dapat menjadi penanda status sosial sekaligus bagian dari perjalanan hidup masyarakat.
Dari Desa, Kain Dibawa Pulang untuk Diceritakan
Sebagian kain yang ditampilkan Nury diperoleh ketika melakukan peliputan dan riset tenun untuk sebuah buku tentang tenun Indonesia.

Ia mendatangi desa-desa, bertemu masyarakat, melihat proses dan tradisi yang melingkupi kain, kemudian membawa sebagian kain tersebut untuk disimpan dan dipelajari.
Kini, kain-kain itu kembali keluar dari lemari dan bertemu dengan publik.
Dari puluhan kain yang dipamerkan, hampir seluruh wilayah Nusa Tenggara Timur hadir. Tenun Sumba menjadi salah satu koleksi yang paling banyak ditampilkan.
Nanin: Tak Harus Jadi Ahli untuk Mencintai Tenun
Bagi Nanin Upiyanti, pemilik Warung TUMAN BSD, kecintaan terhadap kain bermula dari sesuatu yang sangat sederhana: suka, kemudian membeli dan memakainya.
“Setiap lihat tenun yang bagus, bawaannya ingin beli. Saya tidak cukup memahami teknik atau semua maknanya. Yang saya tahu, ini adalah mahakarya perempuan yang harus kita lestarikan dan jaga. Makanya saya pakai untuk sehari-hari,” ujar Nanin.
Kecintaannya terhadap budaya tidak hanya diwujudkan melalui tenun. Puluhan lembar batik juga tersimpan di lemarinya.
“Pokoknya yang saya suka, saya beli dan pakai,” katanya sambil tertawa.
Bagi Nanin, cara sederhana memakai kain justru dapat menjadi jalan untuk membuat wastra tetap hidup di tengah masyarakat.
Kain yang hanya disimpan di lemari memang tetap indah. Tetapi kain yang dikenakan akan terus hidup.
Motif Menjadi Pesan Leluhur
Nury mengatakan hampir setiap lembar tenun memiliki makna dan filosofi. Proses pembuatannya pun membutuhkan keterampilan, ketekunan, dan waktu yang panjang.
Salah satunya motif mamuli dari Sumba yang dikenal sebagai simbol rahim perempuan dan berkaitan dengan kesuburan serta kehidupan. Bentuknya menyerupai omega.
Ada pula motif tengkorak, kuda, ikan, mata burung, rusa dan berbagai bentuk lain yang memiliki pesan tersendiri.
“Setiap motif mengandung makna, pesan, dan doa dari para leluhur,” jelas Nury.
Karena itu, ketika seseorang mengenakan tenun, yang dibawa bukan hanya warna dan motif. Ada cerita mengenai manusia, alam, perempuan, leluhur, dan kehidupan.
Dari Barat hingga Timur, Indonesia Punya Cerita
Nury dan Nanin berharap semakin banyak masyarakat mengenal, mencintai, dan menggunakan kain tenun karya perempuan Indonesia.
Sebab, tradisi tenun tidak hanya hidup di Nusa Tenggara Timur.
Dari Barat hingga Timur Indonesia, berbagai daerah memiliki tradisi wastra dengan karakter dan cerita masing-masing.
Tenun Lipa Todo, misalnya, memperlihatkan jejak akulturasi budaya Bugis, Bima, dan Bajo. Sementara Ikat Patola Ratu dari Sumba Timur menunjukkan adanya pengaruh dan perjumpaan budaya India.
Kain-kain tersebut lahir dari perjalanan panjang masyarakat: perdagangan, migrasi, perkawinan, kepercayaan, hingga perjumpaan berbagai kebudayaan.
TUMAN Gelaran Tenun Bukan Sekadar Pameran
Pada akhirnya, TUMAN Gelaran Tenun bukan sekadar ruang untuk memamerkan kain.
Jemuran bambu justru menjadi metafora sederhana: membawa tenun kembali dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti ketika kain-kain itu hidup di kampung asalnya.

Pengunjung diajak mendekat, melihat, menyentuh, mengenal, lalu membaca cerita yang tersimpan di antara benang-benang.
Nury dan Nanin berharap gelaran tersebut tidak berhenti sebagai satu acara.
“Semoga ini bukan gelaran yang terakhir. Kami mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang terus memberi dukungan kepada perempuan pengrajin tenun,” ujar keduanya.
Sebab merawat tenun bukan hanya menyelamatkan selembar kain dari kepunahan.
Merawat tenun berarti menjaga cerita perempuan, ingatan leluhur, dan keberagaman Indonesia agar tetap hidup dari generasi ke generasi.
RAJA MEDIA — Cepat, Tegas, Terpercaya.![]()
Opini | 5 hari yang lalu
Nasional | 5 hari yang lalu
Otomotif | 2 hari yang lalu
Parlemen | 6 hari yang lalu
Daerah | 4 hari yang lalu
Kesehatan | 5 hari yang lalu
Daerah | 6 hari yang lalu
Nasional | 4 hari yang lalu
Parlemen | 6 hari yang lalu





