Politik

Info Haji

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Otomotif

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Calon Dewan

Indeks

Selat Hormuz Memanas! DPR Ingatkan: Dunia di Ambang Krisis Energi

Laporan: Halim Dzul
Minggu, 22 Maret 2026 | 18:31 WIB
Anggota Komisi II DPR RI dari Fraksi Gerindra, Azis Subekti - Foto: Dok Fraksi Gerindra -
Anggota Komisi II DPR RI dari Fraksi Gerindra, Azis Subekti - Foto: Dok Fraksi Gerindra -

RAJAMEDIA.CO - Jakarta, Legislator - KETEGANGAN di Timur Tengah makin panas. Kali ini, sorotan tertuju ke Selat Hormuz—jalur vital yang disebut sebagai “urat nadi” ekonomi global.
 

Anggota Komisi II DPR RI dari Fraksi Gerindra, Azis Subekti, melontarkan peringatan keras. Konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat dinilai bisa berujung pada krisis energi global.
 

“Arteri Dunia” yang Terancam Tersumbat
 

Azis menegaskan, Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran biasa. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melintas di sana.
 

Artinya, gangguan kecil saja bisa berdampak besar.
 

“Jika Selat Hormuz tersumbat, bahkan hanya beberapa minggu, ekonomi global akan merasakan demamnya. Harga energi melonjak, inflasi menekan dapur rumah tangga, dan stabilitas politik bisa terguncang,” tegasnya.
 

Tarik Ulur Kekuatan Besar Dunia
 

Azis membeberkan, konflik ini tidak berdiri sendiri. Para pemimpin dunia sedang memainkan kepentingannya masing-masing.
 

Di satu sisi, Donald Trump berupaya menjaga dominasi dan arsitektur perdagangan global Amerika.
 

Di sisi lain, Xi Jinping memilih pendekatan pragmatis—stabilitas energi demi menjaga roda industri tetap berputar.
 

“Bagi Tiongkok, stabilitas lebih penting dari siapa yang menang. Gangguan di Hormuz bisa langsung memukul industri mereka,” kata Azis.
 

Rusia dan Permainan Energi Global
 

Tak ketinggalan, Vladimir Putin disebut ikut memainkan momentum.
 

Menurut Azis, Rusia berpotensi memanfaatkan krisis ini untuk:
 

- Mengalihkan fokus Amerika dari Eropa 

- Sekaligus menikmati lonjakan harga energi dunia 
 

Krisis bagi sebagian negara… bisa jadi keuntungan bagi yang lain.
 

Dilema Arab Saudi dan Strategi Iran
 

Di kawasan, posisi Arab Saudi disebut berada di persimpangan sulit: antara rivalitas dengan Iran dan menjaga stabilitas kawasan.
 

Sementara itu, Iran di bawah Masoud Pezeshkian diperkirakan tidak akan menghadapi konflik secara konvensional.
 

“Iran akan bermain di eskalasi asimetris—misil dan jaringan milisi. Mereka akan membuat perang menjadi mahal bagi lawan,” jelas Azis.
 

Ia mengingatkan:
Iran bukan Irak. Bukan Afghanistan.
Invasi darat ke negara itu bisa berubah jadi perang panjang yang menguras segalanya.
 

Ancaman Meluas: Dari Lebanon hingga Laut Merah
 

Azis memprediksi konflik ini bisa bergerak ke arah yang lebih luas:
 

- Tidak ada invasi darat besar-besaran, tapi konflik berkepanjangan 

- Meluas ke Lebanon, Suriah, hingga Laut Merah 
 

Lonjakan harga energi yang memicu tekanan sosial di berbagai negara 
 

Dampaknya tidak hanya militer—tapi juga ekonomi dan politik global.
 

Peringatan Keras: Energi = Kekuasaan
 

Di akhir pernyataannya, Azis mengingatkan satu hal yang sering dilupakan dunia:
 

siapa yang menguasai jalur energi, dialah yang mengendalikan dunia.
 

“Kita harus waspada. Krisis energi bisa memicu perubahan politik domestik yang tidak terduga,” pungkasnya.
 

Pesan dari Senayan jelas:
Konflik di Selat Hormuz bukan sekadar perang regional.
Ini soal denyut ekonomi dunia—yang jika terganggu, semua negara akan merasakan dampaknya.rajamedia

Komentar: