Politik

Info Haji

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Otomotif

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Calon Dewan

Indeks

PSI Diserbu Kader Partai Lain, Pengamat: Itu Tanda Krisis Figur!

Laporan: Firman
Senin, 22 Juni 2026 | 20:32 WIB
Logo PSI - Foto: Repro -
Logo PSI - Foto: Repro -

RAJAMEDIA.CO - Jakarta, Polkam – Klaim Partai Solidaritas Indonesia (PSI) bakal kedatangan lebih dari 10 kader dari berbagai partai politik menuai sorotan. Di tengah optimisme partai berlambang mawar itu menyambut gelombang kader baru, sejumlah pengamat justru melihat adanya persoalan yang lebih mendasar di tubuh PSI.
 

Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga, menilai langkah PSI merekrut tokoh-tokoh dari luar partai tidak otomatis mencerminkan kekuatan politik. Sebaliknya, strategi tersebut dinilai bisa menjadi sinyal lemahnya kaderisasi internal dan krisis figur menjelang Pemilu 2029.
 

Euforia Rekrutmen atau Alarm Kaderisasi?
 

Jamiluddin mengatakan pernyataan Ketua Harian DPP PSI Ahmad Ali yang menyebut banyak kader partai lain akan bergabung memang dapat dibaca sebagai keberhasilan menarik perhatian tokoh politik dari luar.
 

Menurutnya, PSI ingin menampilkan diri sebagai partai yang lebih terbuka, menarik, dan memiliki prospek politik yang menjanjikan.
 

"Pengakuan Ahmad Ali itu menunjukkan rasa bangganya PSI mampu membajak kader partai lain. Ahmad Ali ingin menunjukkan seolah PSI sebagai partai yang lebih menarik, terbuka, dan memiliki masa depan lebih baik," kata Jamiluddin, mengutip laman Media Indonesia, Senin (22/6/2026).
 

Namun di balik itu, ia melihat adanya persoalan yang tidak bisa diabaikan.
 

"Sesungguhnya ada kegagalan kaderisasi di PSI. Bahkan hal itu mengindikasikan di PSI sedang terjadi krisis figur," ujarnya.
 

Soroti Posisi Ahmad Ali dan Kaesang
 

Jamiluddin juga menyoroti struktur kepemimpinan PSI, khususnya keberadaan Ahmad Ali sebagai Ketua Harian DPP PSI.
 

Menurutnya, posisi ketua harian biasanya dibutuhkan ketika ketua umum memiliki kesibukan luar biasa sehingga memerlukan figur yang membantu mengendalikan organisasi sehari-hari.
 

"Krisis figur itu juga menyentuh ketua umumnya. Untuk menambalnya, maka ditunjuklah Ahmad Ali sebagai Ketua Harian DPP PSI. Biasanya Ketua Harian ditunjuk bila ketua umumnya sibuk. Namun Kaesang Pangarep tidak termasuk kategori tersebut," katanya.
 

Pandangan itu menjadi bagian dari kritik terhadap kesiapan PSI menghadapi persaingan politik menuju Pemilu 2029.
 

Jalan Pintas Menuju 2029?
 

Menurut Jamiluddin, PSI tampaknya belum yakin figur-figur internal yang ada saat ini mampu mendongkrak elektabilitas partai secara signifikan.
 

Karena itu, PSI dinilai memilih strategi yang lebih pragmatis dengan merekrut kader-kader berpengalaman dari partai lain yang sudah memiliki jaringan dan basis dukungan politik.
 

"Dengan ketua umum dan kader yang ada saat ini, PSI tampaknya tidak yakin dapat meningkatkan elektoral partainya. PSI juga yakin tak mampu melenggang ke Senayan pada Pileg 2029," ujarnya.
 

Ia menilai pendekatan tersebut bertujuan memperoleh modal sosial dan popularitas secara instan tanpa harus menunggu proses kaderisasi jangka panjang.
 

Belum Tentu Dongkrak Suara
 

Meski demikian, Jamiluddin meragukan efektivitas strategi tersebut. Menurutnya, sebagian besar tokoh yang disebut bergabung ke PSI bukan figur dengan pengaruh elektoral besar di tingkat nasional.
 

"Hanya satu dua orang yang masuk level sedang seperti Rusdi Masse. Lainnya mantan bupati, mantan anggota DPR RI, dan mantan-mantan lainnya," katanya.
 

Ia menambahkan, status sebagai mantan pejabat tidak otomatis membuat dukungan politik ikut berpindah ke partai baru. Sebab, mayoritas pemilih Indonesia merupakan massa mengambang yang tidak memiliki ikatan kuat dengan figur tertentu.
 

"Karena itu, kecil kemungkinan kader yang eksodus ke PSI dapat membawa pendukungnya dalam jumlah besar. Kalau pun ada, hanya pendukung setianya," jelasnya.
 

PSI Diprediksi Masih Sulit Tembus Senayan
 

Atas dasar itu, Jamiluddin memperkirakan strategi merekrut kader dari partai lain belum tentu menjadi jalan mulus bagi PSI untuk lolos ambang parlemen pada Pemilu 2029.
 

Menurutnya, tanpa penguatan kaderisasi dan figur internal yang kuat, perekrutan tokoh-tokoh eksternal hanya akan menjadi efek kejut jangka pendek.
 

"Kalau PSI mengandalkan kader hasil bajakan untuk bisa masuk Senayan pada Pileg 2029, tampaknya akan gigit jari. PSI akan tetap jadi partai gurem dan hanya bisa bermimpi seolah-olah sudah di Senayan," pungkasnya.rajamedia

Komentar: