Banggar DPR Pertanyakan Penilaian MSCI, IHSG Anjlok 11,57 Persen
RAJAMEDIA.CO – Jakarta – Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Said Abdullah mempertanyakan penilaian Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap pasar modal Indonesia setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 11,57 persen pada perdagangan Jumat (16/10/2026).
IHSG ditutup di level 5.185,11 setelah pasar bereaksi terhadap pengumuman MSCI mengenai konsultasi atas usulan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Said menilai evaluasi MSCI perlu disikapi secara kritis, meskipun masukan dari lembaga penyedia indeks global tersebut tetap harus diterima sebagai bahan pembenahan pasar modal nasional.
Said Abdullah: MSCI Bukan Penentu Mutlak
Said mempertanyakan dasar dan tujuan penilaian MSCI terhadap Bursa Efek Indonesia (BEI). Ia berharap evaluasi yang dilakukan benar-benar berorientasi pada perbaikan tata kelola pasar modal Indonesia.
“Sudah pantaskah BEI diperlakukan seperti itu? Apakah tindakan MSCI semata-mata untuk tujuan mulia, membenahi tata kelola bursa saham Indonesia? Harapan saya, MSCI sepenuhnya berada pada posisi seperti itu. Namun, apa pun itu, koreksi dari MSCI tetap kita terima sebagai evaluasi yang serius,” kata Said dalam keterangan resmi, Minggu (18/10/2026).
Said juga mengkritik jika penilaian MSCI diperlakukan seolah-olah tidak dapat dipertanyakan.
“Yang pasti MSCI bukan kelembagaan agama, tempat kebenaran esensial melekat, dan para pengurus MSCI bukan nabi, yang memiliki otoritas tunggal, dan paling sempurna,” ujar Said.
Menurut Said, hubungan antara otoritas pasar modal Indonesia dan MSCI seharusnya dibangun melalui komunikasi terbuka, evaluasi yang objektif, dan komitmen bersama untuk memperbaiki kualitas pasar.
Bandingkan dengan Penilaian FTSE Russell
Said turut menyinggung penilaian FTSE Russell yang mempertahankan Indonesia dalam kelompok Secondary Emerging Market. Ia mempertanyakan perbedaan penilaian kedua penyedia indeks global tersebut terhadap perkembangan pasar modal Indonesia.
“Kenapa FTSE Russel memberi penghargaan atas upaya perbaikan di BEI, sementara MSCI tidak? Bukankah jika ada hal yang belum terlalu jelas bisa dikomunikasikan kepada otoritas?” kata Said.
Ia menegaskan tidak menolak koreksi dari MSCI selama masukan tersebut diarahkan untuk memperbaiki tata kelola pasar modal Indonesia.
MSCI Soroti Transparansi dan Tata Kelola
Di sisi lain, MSCI menyampaikan kekhawatiran mengenai transparansi struktur kepemilikan saham, dugaan perdagangan terkoordinasi, serta konsistensi perbaikan tata kelola dan penegakan aturan di pasar modal Indonesia.
MSCI telah membuka konsultasi atas usulan perubahan klasifikasi Indonesia menjadi Standalone Market. Artinya, perubahan klasifikasi tersebut belum merupakan keputusan final.
Persoalan yang disampaikan MSCI menjadi tantangan bagi otoritas pasar modal Indonesia untuk memperkuat transparansi kepemilikan saham, meningkatkan pengawasan, serta memastikan aturan diterapkan secara konsisten.
Momentum Membenahi Pasar Modal
Anjloknya IHSG sebesar 11,57 persen menunjukkan besarnya respons pasar terhadap pengumuman MSCI. Kondisi ini sekaligus menegaskan pentingnya menjaga kepercayaan investor melalui keterbukaan informasi dan kepastian regulasi.
Kritik Said terhadap MSCI dan kekhawatiran lembaga tersebut perlu ditempatkan secara berimbang. Evaluasi internasional dapat menjadi masukan bagi pembenahan, sementara proses penilaiannya juga perlu dikomunikasikan secara jelas kepada otoritas dan pelaku pasar.
Pada akhirnya, tantangan Indonesia bukan hanya mempertahankan klasifikasi pasar, tetapi juga membuktikan bahwa tata kelola, transparansi, dan integritas perdagangan saham terus diperbaiki.
RAJA MEDIA – Cepat, Tegas, Terpercaya.![]()
Nasional | 1 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Parlemen | 1 hari yang lalu
Hukum | 2 hari yang lalu
Pendidikan | 4 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
Politik | 6 hari yang lalu
Nasional | 5 hari yang lalu
Peristiwa | 17 jam yang lalu